Showing posts with label Tasawuf Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf Ramadhan. Show all posts

Wednesday, September 09, 2009

Tuntunan Praktis Sakaratul Maut dan Tajhizul Mayyit (Bagian Pertama)

. Wednesday, September 09, 2009
0 comments

Tuntunan parktis ini dimaksudkan sebagai pedoman mudah untuk menuntun seseorang yang sedang dalam keadaan sakit keras (sakaratul maut) dan tata cara pengurusan jenazah (tajhiz al-mayyit), mulai seseorang baru saja meninggal dunia sampai penyelesaian pemakamannya.
Tuntunan ini disadur dari beberapa kitab fikih, terutama kitab Al-Mughniy, karya Ibn Qudamah. Tuntunan ini juga merujuk kepada pengalaman praktis sejumlah ulama di beberapa tempat dan dalam beberapa kondisi.

Tuntunan praktis ini betujuan membantu keluarga yang sedang mendapatkan cobaan berupa adanya anggota keluarga yang sedang dalam keadaan sakaratul maut atau berpulang ke rahmatullah. Keluarga yang mendapatkan cobaan seperti ini disarankan tidak boleh panik, tetapi dianjurkan segera melakukan tuntunan secara sadar kepada, baik orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut maupun yang sudah meninggal dunia.

Tuntunan Sakaratul Maut

Berdasarkan tuntunan dari Rasulullah Saw, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, baik oleh anggota keluarga, pembesuk orang sakit, maupun orang yang sedang sakit. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menyabarkan orang sakit agar menerima kenyataan itu sebagai bagian dari takdir dan cobaan Tuhan. Tabah menjalani penyakit bagian dari ibadah dan berfungsi sebagai penghapus dosa masa lampau.
2. Jangan membayangkan sesuatu yang menakutkan kepada orang sakit, sebaliknya upayakan membangkitkan semangat, rasa optimis, dan kepasrahan (tawakkal) kepada Allah Swt.
3. Tuntunkan sebuah doa dari Rasulullah terhadap orang sakit sebagai berikut:
Allahumma ahyiniy ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li.
Artinya: “Ya Allah, perpanjanglah hidupku jika itu lebih baik bagiku, dan ambillah aku jika itu lebih baik bagiku”.
4. Anggota keluarga dan para pelayat bisa membantu dengan doa sebagai berikut:
Allahumma ahyihi (ha) ma kanatil hayatu khairan lahu (laha), wa tawaffahu (ha) idza kanatil wafatu khairan lahu (laha).
Artinya: “Ya Allah, panjangkanlah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya”.
5. Doa lain yang dianjurkan dan diajarkan Rasulullah kepada para pembesuk terhadap orang sakit ialah:
Allahumma rabban nasi, mudzhibal basi, isyfi antasy syafi, syifa’an la yughadiru saqaman.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, sembuhkanlah (dia), Engkaulah Zat Yang Maha Penyembuh, Penyembuh yang tidak menyisahkan (penyakit) kepada orang sakit”.
6. Ketika Rasulullah sedang sakit, Jibril membesuknya dan membaca :
Bismillahi arqika, min kulli syai’in yu’dzika, min syarri kulli nafsin wa ‘ainin hasidah, Alhahu yasyfika.
Artinya: “ Atas izin Allah saya mengupayakan kebaikan atasmu, dari segala sesuatu yang membuatmu tersiksa, dari keluhan setiap diri dan mata yang dilemahkan Allah, Allah menyembuhkanmu”.
7. Orang yang sudah dalam keadaan sakaratul maut, anggota keluarga atau pelayat menuntun orang sakit untuk membaca atau mengikuti dalam hati lafaz tahlil: La ilaha illal Lah, Muhammadur Rasulullah, berkali-kali, sampai orang sakit menghembuskan napas terakhir. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat La ilaha illal Lah, maka yang bersangkutan akan masuk surga”.
8. Para pelayat lainnya dianjurkan membaca surah Yasin, untuk meringankan beban orang yang sedang zakaratul maut, sesuai anjuran Rasulullah Saw.

Tuntunan Tajhizul Mayit

Seseorang dinyatakan meninggal dunia jika sudah mengalami tanda-tanda antara lain sebagai berikut:
1. Denyut jantung sudah berhenti total.
2. Sebelumnya, bagi yang meninggal secara normal, biasanya diawali dengan rasa dingin ujung jari-jari kaki, kemudian berangsur-angsur naik ke bagian atas anggota badan.
3. Biasanya dada mulai kedengaran bunyi sesak napas, lalu disusul dengan bunyi di tenggorokan.
4. Biasanya yang bersangkutan mengambil dan membuang napas dari mulut.
5. Kemudian perlahan-lahan pandangan matanya menengok ke atas. Umumnya orang yang akan meninggal matanya menengadah ke atas, seperti kata Rasulullah: “Sesungguhnya apabila roh seseorang dicabut, maka tatapan matanya akan menyertainya”.
6. Bisa juga, dan lebih baik, jika pemberitaan kematian itu dinyatakan oleh dokter.

Catatan: Euthanasia, yakni melakukan upaya sadar untuk mempercepat proses kematian seseorang, masih menjadi kontroversi di kalangan ulama. Euthanasia ada dua macam, yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif.

Euthanasia aktif, yakni melakukan upaya aktif untuk mempercepat proses kematian seseorang, seperti tindakan seseorang dokter yang memberikan suntikan melebihi dosis kepada pasien, meskipun menurutnya sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup. Umumnya para ulama mengharamkan euthanasia aktif, bahkan di antara mereka ada yang menganggapnya sebagai pembunuh yang dapat dikenakan ancaman pembunuhan bagi yang melakukannya.

Euthanasia pasif, yakni tindakan sadar untuk tidak melakukan upaya dan pertolongan maksimal lebih lanjut terhadap seorang pasien yang dinyatakan sudah mati suri dan tidak akan ada lagi harapan untuk hidup menurut kesimpulan tim dokter. Euthanasia seperti ini umumnya para ulama menganggaap wajar dan boleh. Akan tetapi, kita harus hati-hati terhadap penghentian mekanisme kerja alat-alat berat yang menolong pernapasan si penderita, bisa saja dianggap eutanasia aktif, jika si pasien masih ada kemungkinan untuk mempertahankan hidup.

Jika seseorang sudah dinyatakan telah meninggal, maka hal-hal yang segera harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Anggota keluarga dan pelayat dianjurkan Rasulullah membaca ayat 83 dari surah Yasin: Fasubhanal ladzi bi yadihi malakutu kulli syai’in wa ilaihi turja’un.
2. Orang lain yang mendengarkan berita kematian ini dianjurkan membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
3. Setelah itu, mayat segera ditutup rapat kelopak mata dan mulutnya, sambil membaca: Bismillahi wa ’ala wafati ……(nama yang meninggal disebutkan). Misalnya: Bismillahi wa ‘ala wafati Muhammad. Para pelayat dianjurkan mendoakan yang meninggal, seperti diajarkan Rasulullah:
Allahummaghfir ………(sebut nama orang yang meninggal), warfa’ darajatahu (ha) fil mahdiyyin al-muqarrabin, wakhlufhu (ha) fi ‘aqibihi fil ghairin, waghfir lana walahu (ha) ya Rabbal ‘alamin.
Catatan: Sebut hu kalau laki-laki dan ha untuk perempuan.
4. Setelah itu, kedua kakinya dirapatkan dan kedua tangannya dilipat menyerupai lipatan tangan orang sedang shalat, tangan kiri di bagian dalam dan tangan kanan di bagian luar.
5. Biasanya sulit untuk menutup mata, menutup mulut, melipat tangan, dan merapatkan kaki, jika terlambat dan mayat sudah mengeras. Jika hal itu terjadi, biasanya dapat diatasi dengan menarik kedua ibu jari kaki si mayat sambil menutup mata dan mulutnya.
6. Kemudian, posisi tidurnya diubah menghadap ke kiblat, membentang seperti bentangan mayat di dalam kubur.
7. Mayat ditutupi seluruh anggota badannya dengan kain bersih.
8. Jika satu dan lain hal, mayat itu harus menunggu sesuatu, misalnya untuk diotopsi atau menunggu anggota keluarga dekat, atau hal-hal yang darurat lainnya, maka mayat harus diamankan dari segala sesuatu yang bisa mengganggu si mayat, misalnya kerumunan semut atau lalat. Bahkan sebaiknya diupayakan bahan-bahan tertentu yang bisa mempertahankan keutuhan dan kesegaran mayat.
9. Memberikan wewangian atau bahan-bahan lain yang bisa mencegah bau busuk dari mayat.

Rujukan
Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’I, Ibn Majah dan Ahmad Ibn Hanbal. Lihat dalam Ibn Qudamah, Al-Mughny, Juz III, Kairo: al-Thiba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’ wa al-I’lan, 1987, h. 360.

                                                                                                                                                                             Bersambung ke bagian 2


[ Baca Selengkapnya ]...

Tuntunan Praktis Sakaratul Maut dan Tajhizul Mayyit (Bagian Kedua: Memandikan Mayat)

.
0 comments

Tuntunan Praktis Sakaratul Maut dan Tajhizul Mayyit (Bagian Kedua: Memandikan Mayat)

Memandikan mayat merupakan salah satu yang harus dilakukan sebagai penghormatan terhadap jenazah dan sebagai bagian dari tuntunan Rasulullah Saw. Hal-hal yang perlu disiapkan sebelum memandikan mayat antara lain:
1. Orang-orang yang akan memandikannya. Orang-orang tersebut harus diusahakan:
a. Anggota keluarga atau yang dianggap sebagai anggota keluarga yang sejenis kelamin dengan si mayat.
b. Jika memerlukan bantuan tenaga yang berlainan jenis, diusahakan dari anggota keluarga terdekat si mayat, misalnya suamiya.
c. Orang yang akan memandikan mayat bersih dari hadats kecil dan besar. Perempuan menstruasi dimakruhkan untuk memandikan mayat.
d. Orang yang akan memandikan mayat bersedia untuk tidak menceritakan kepada siapa pun terhadap apa pun yang dialaminya ketika memandikan mayat.
e. Anak-anak di bawah umur bisa dimandikan orang yang tidak sejenis kelamin.
2. Air bersih yang cukup untuk membersihkan sekujur badan mayat.
3. Dianjurkan untuk memberikan sejenis kembang pengharum (sidr) yang segar di dalam air itu.
4. Tempat untuk memandikan mayat diusahakan di tempat yang bernaung atau di bawah atap, atau dalam kamar tertentu.
5. Kain yang panjang dan lebar, yang dapat menutupi si mayat dari pandangan orang lain. Siraman air di tas kain dan tangan menggosok di bawah kain.
6. Benda penyanggah, yang akan menyanggah bagian kepala, dada, perut, punggung, lutut dan kaki si mayat. Diusahakan dari bahan yang sama besarnya dan tidak keras dan kasar. Mayat juga bisa dimandikan di atas kaki orang yang duduk berhadap-hadapan sambil meluruskan kaki.
7. Perlengkapan mandi, antara lain:
a. Handuk dan kain pering
b. Kain bersih penutup aurat sesudah mandi.
c. Sabun, sebagai pengganti daun sidr
d. Sampo, sebagai pengganti daun khitmiy, sejenis daun yang mengeluarkan busa.
e. Sikat gigi dan odol
f. Sisir
g. Kapas untuk menutupi bagian yang berongga atau berlubang karena luka.
h. Korek telinga
i. Parfum
j. Gunting kuku
k. Gunting untuk merapikan rambut,jenggot, atau kumis si mayat (kalau dianggap perlu)
l. Dan bahan-bahan atau keperluan lain yang tidak mengandung najis atau unsur haram lainnya.
 
Cara Memandikan Mayat:
Setelah segalanya tersedia, maka cara memandikan mayat sebagai berikut:
1. Petama kali dilakukan niat untuk memandikan mayat karena Allah, lalu membaca basmalah
2. Membersihkan bagian luka (kalau ada), kemudian dua lubang di bagian punggung mayat. Diusahakan yang menggosok bagian-bagian inti aurat si mayat ialah anggota keluarga terdekatnya.
3. Membuang kotoran atau najisnya dengan cara menekan bagian perut perlahan-lahan, terutama kalau mayat sedang hamil.
4. Membersihkan seluruh anggota badan dengan sabun.
5. Membersihkan rambutnya dengan sampo.
6. Tidak ada ketentuan maksimal, yang ada ketentuan minimal tiga, lima, atau tujuh kali mayat dibersihkan dengan air bersih, sesuai hadis Nabi.
7. Membuka semua benda-benda yang melekat pada diri si mayat, seperti cincin, perhiasan, termasuk perban.
8. Giginya disikat pelan-pelan menggunakan odol, hidung dan telinga dibersihkan.
9. Diusahakan tidak melihat inti aurat mayat.
10. Setelah segalanya bersih, maka mayat diwudlukan, sebagaimana disebutkan dalam hadis Shahih.
11. Rambut disisir, kumis dan jenggot dirapikan, kalau perlu menggunakan gunting.
12. Kuku dibersihkan dan dirapikan, kalau perlu menggunakan gunting kuku.
13. Kita dianjurkan untuk menghiasi mayat seperti menghiasi pengantin, sesuai hadis Nabi ishna’u bi mautakum ka ma tashna’una bi ‘araisikum.
Bersambung ke bagian 3

 



[ Baca Selengkapnya ]...

Tuntunan Praktis Skaratul Maut dan Tajhizul Mayyit (3)

.
0 comments

Mengkafani Mayat
Mengkafani mayat juga bagian dari yang harus dilakukan bagi pengurusan jenazah. Setelah dimandikan, mayat dipindahkan ke tempat lain yang telah ditentukan dengan posisi kepala lebih tinggi dan dalam keadaan auratnya tertutup. Setelah itu, mayat akan dibungkus kain kafan dengan cara sebagai berikut:

1. Kain kafan berwarna putih, tersusun tiga lapis, sesuai dengan ukuran mayat.
2. Bagian kepala dan kaki dilebihkan untuk memudahkan pengikatan kain kafan.
3. Disiapkan pengikat, sebaiknya dari bahan kain kafan itu sendiri, untuk mengikat bagian atas kepala, leher, dada, perut, punggung, paha, kaki, dan bagian bawah dari kaki.
4. Kain kapas dapat digunakan untuk menutupi kucuran darah di bagian luka atau di bagian berongga lainnya, jika tetap mengeluarkan cairan.
5. Diusahakan ikatan mempunyai simpul guna memudahkan pembukaannya nanti di liang lahat. Mayat di liang lahat tidak boleh dalam keadaan terikat, namun tetap dalam keadaan aurat tertutup dan terbungkus.
6. Setelah kain kafan dibentangkan dengan posisi mayat terlentang, kedua kakinya dirapatkan, tangannya dilipat menyerupai orang shalat, tangan kiri di dalam dan tangan kanan di bagian luar. Mayat terbujur, bagian kepala di arah kiblat.
7. Bekas pakaian sesudah mandi dibuka perlahan-lahan tanpa memperlihatkan aurat mayat. Pada waktu membungkusnya, diperlukan kain lebar yang akan menutupi anggota badan mayat. Tangan bekerja di bawah kain tanpa melihat aurat mayat.
8. Setelah mayat terbentang di atas kain kafan, ujung sebelah kiri kain kafan diangkat menutupi badan mayat, kemudian ujung kanan sebelah kanan diangkat menutupi badan mayat dan berada pada pusisi di atas. Setelah itu, pertemuan ujung kain memanjang dari atas kepala sampai lurus ke bawah, ke bagian kaki, kemudian digulung dengan gulungan halus dan rapi dari kanan ke kiri.
9. Setelah itu, pengikat yang memang sudah tersedia di bawah kain kafan, diikatkan dengan pelan-pelan dan tidak terlalu kecang tetapi tidak juga terlalu longgar yang memungkinkan pertemuan kain kafan terbuka.
10. Pada waktu membungkus mayat, diusahakan menyebut kalimat tahlil dan istighfar, yakni: Lailaha illallah, Muhammadur Rasulullah. Astaghfirullahal ‘azhim, astaghfirullaha wa atubu ilaihi.
Artinya: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul-Nya, Aku memohon pengampunan Allah Yang Maha Besar, aku mohon pengampunan Allah dan aku bertobat kepadanya.
11. Setelah diikat, mayat ditutupi dengan penutup bagian luar yang terdiri atas kain yang lebih lebar, sehingga tidak kelihatan bagian lekuk-lekuk mayat.

Shalat Janazah
Setelah mayat dibungkus dengan rapi, maka sebaiknya segera dilaksanakan shalat jenazah. Hal-hal yang berkaitan dengan shalat jenazah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Diusahakan sebanyak mungkin orang dapat melakukan shalat jenazah secara berjamaah. Jika terpaksa, dalam keadaan tanpa wudlu pun diajurkan ikut shalat itu.
2. Jika ruang masih lebar, maka shaf (barisan) shalat disusun memanjang ke belakang, bukan memanjang ke samping.
3. Mayat diletakkan di tempat yang bersih dan terhormat, dan boleh dishalatkan berkali-kali.
4. Shalat jenazah dipimpin seorang imam yang alim.
5. Imam berdiri di bagian tengah (pusat) jika jenazah perempuan, dan imam berdiri di bagian kepala menurut imam Syafi’, dan menurut Imam Abu Hanifah imam berdiri di bagian dada jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan.
6. Jika mayat lebih dari seorang, maka dapat dishalatkan sekaligus.
7. Mayat dishalatkan di tempat yang bersih dalam posisi mayat terbentang di depan imam dan jamaah.
8. Mayat yang tidak sempat dishalatkan, dapat dishalatkan di atas kuburan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, sepanjang mayat belum lewat sebulan, dan atau dapat juga dishalatghaibkan.
Shalat janazah yang lebih masyhur ialah terdiri atas empat takbir tanpa ruku’ dan sujud, meskipun pernah Rasulullah dan kalangan sahabat shalat janazah lima, enam, dan tujuh rakaat. Tata cara shalat janazah sebagai berikut:

1. Takbir pertama
Diawali dengan membaca niat shalat jenazah, misalnya:
Ushalliy ‘ala hadza/hadzihi al-mayyit arba’ah takbiran lillahi ta’ala.
Catatan:
Jika mayat laki-laki dibaca hadza dan jika mayat perempuan dibaca hazdihi dan jika mayatnya tidak jelas, karena mempunyai dua alat kelamin atau telah melakukan operasi plastik, maka yang bersangkutan mengikuti unsur jenis kelamin yang lebih dominan secara alami semasa ia hidup.
Setelah itu membaca takbir pertama, langsung membaca surah al-Fatihah, tanpa membaca doa iftitah dan surah lain sesudah al-fatihah.

2. Takbir kedua
Sesudah membaca surah Al-Fatihah, tangan diangkat untuk takbir kedua, Kemudian membaca shalawat Nabi, yang redaksinya antara lain:
Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa sallam.

3. Takbir Ketiga
Setelah membaca shalawat kepada Nabi, tangan diangkat untuk takbir ke tiga. Setelah itu dibaca doa untuk al-marhum atau al-marhumah, yang redaksi doanya antara lain sebagai berikut:

Allahumma ighfir li hayyina wa mayyitina, wa syahidina wa ghaibina, wa shaghirina wa kabirina, wa dzakarina wa untsana, innaka ta’lamu munqalabana wa matswana, innaka ‘ala kulli syai’in qadir. Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi ‘alal islam, wa man tawaffaitahu minna fa tawaffahu ‘alal iman. Allahumma innahu ‘abduka wa ibnu ummatika, nazala bika wa anta khairu munzalin bi hi, wa la na’lamu illa khairan. Allahumma in kana muhsinan fa jizhu bi ihsanihi, wa in kana musi’an fa tajawaz ‘anhu. Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba’dahu.

Artinya: “ Ya Allah, ampunilah baik semasih kami hidup atau sudah meninggal, baik dosa yang tampak maupun yang tersembuny, baik dosa di masa kecil kami maupun setelah dewasa, baik kami sebagai perempuan atau laki-laki. Engkaulah Zat Yang Maha Tahu apa yang masih sedang berproses maupun yang sudah permanent di dalam diri kami, Engkaulah Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Ya Allah, terhadap hambamu yang masih hidup, berikanlah kehidupan secara islami, dan terhadap hambamu yang sudah Engkau panggil, panggillah dalam keadaan beriman. Ya Allah, sesungguhnya dia adalah hamba-Mu dan anak dari hambamu, dia menuju Engkau dan Engkaulah tempat tujuan yang bterbaik. Kami tiada mengetahuinya kecuali kebaikannya. Ya Allah, jika hambamu ini tergolong baik, balaslah dengan kebaikan; jika ia pernah berbuat salah terimalah ia di sisih-Mu. Ya Allah, kiranya Engkau Tidak menyia-nyiakan kebajikannya dan tidak pula menimbulkan fitnah diantara kami sesudah kepergiannya”.
4. Takbir Keempat
Setelah membaca doa-doa untuk jenazah, maka tangan diangkat untuk takbir yang keempat, kemudian membaca salam pertama sambil menurunkan tangan kanan dan menoleh ke sebelah kanan, sambil membaca :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Kemudian menoleh ke kiri sambil menurunkan tangan kiri dan membaca Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Setelah salam, dianjurkan berdoa, antara lain dengan redaksi doa yang sering dibaca nabi di depan janazah:
Allahumma ighfir lahu (ha) warhamhu (ha) wa ‘afihi (ha) wa’fu ‘anhu (ha), wakrim nuzulahu (ha) wa ausi’ madkhalahu (ha) wa aghsilhu (ha) bil ma’i watstsalji wal bardi wa naqqihi (ha) minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadh minad danasi wa abdilhu (ha) daran khairan min darihi (ha) wa ahlan khairan min ahlihi (ha) wa zaujan khairan min zaujihi (ha) wa a’idzhu (ha) min ‘adzabil qabri wa min ‘adzabin nar
Catatan:
Jika mayat laki-laki dibaca hadza dan jika mayat perempuan dibaca hazdihi dan jika mayatnya tidak jelas, karena mempunyai dua alat kelamin atau telah melakukan operasi plastic, maka orang yang bersangkutan mengikuti unsure jenis kelamin yang lebih dominant secara natural ketika ia hidup.

Artinya: “Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia dan maafkanlah seluruh dosa-dosanya, muliakanlah kepergiannya, lapangkanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah dengan air, salju, atau es, dan bersihkanlah dari segala dosa sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran, berikanlah tempat lebih baik dari tempatnya semula, dalam suasana keluarga yang lebih baik dari semula, suasana pasangan yang lebih baik dari sebelumnya, dan selamatkanlah dia dari siksaan kubur”.

Bersambung ke bagian 4


[ Baca Selengkapnya ]...

Tuntunan Praktis Sakaratul Maut dan Tajhizul Mayyit (Bagian 4 Selesai)

.
0 comments

Tata Cara Pemakaman
Setelah jenazah dishalatkan, biasanya dilakukan pelepasan jenazah dari rumah atau dari tempat tertentu. Pada saat pelepasan itu, salahseorang anggota keluarga menyampaikan beberapa hal, antara lain:
1. Menyampaikan permohonan maaf al-marhum atau al-marhumah terhadap seluruh kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukan semasa hidupnya.
2. Menyampaikan kepada masyarakat, jika yang bersangkutan semasa hidupnya pernah meninggalkan utang atau janji kepada seseorang, agar segera disampaikan kepada pihak keluarga. Utang piutang seseorang yang tak terlunasi akan membuat masalah bagi bagi al-marhum/al-marhumah. Pihak keluarga akan berusaha melulunasi hutang itu sebelum harta kekayaannya dibagi oleh ahli warisnya.

Setelah segalanya selesai, maka proses pemakaman dilakukan. Tata cara pemakaman tersebut sebagai berikut:
1. Jenazah dikuburkan di lokasi khusus pemakaman orang Islam. Tidak dibenarkan mayat muslim dikuburkan di selah-selah kuburan non Islam, kecuali dalam keadaan terpaksa, misalnya tulang belulang korban kecelakaan yang sulit teridentifikasi.
2. Kuburan digali sampai ke kedalaman lebih aman dari:
a. Bau busuk
b. Galian binatang buas
c. Hanyut terbawa banjir
d. Dan lain-lain yang bisa mengganggu keutuhan mayat karena rendahnya kualitas kuburan.
3. Galian kuburan menghadapkan mayat ke arah kiblat.
4. Kuburan dibuatkan liang lahat, semacam goa kecil memanjang disudut arah kiblat, di dalam kuburan, sepanjang itu dimungkinkan. Mayat yang sedang hamil disesuaikan ukurannya sehingga mayat tidak kesempitan.
5. Tidak dibenarkan ada benda-benda lain selain kain kafan yang menyertai mayat. Potongan-potongan papan yang biasa diginakan menyanggah tanah galian dari tubuh mayat biasanya dianggap pengecualian.
6. Ketika mayat dimasukkan ke dalam kuburan, diajurkan bagian kepalanya terlebih dahulu dan dalam keadaan poisi kepala lebih rendah.
7. Ketika mayat sudah terbaring di liang lahat, pengikat kain kafan dibuka, tanpa memperlihatkan aurat mayat.
8. Ketika memasukkan mayat ke liang lahat, Rasulullah Saw menganjurkan kepada orang yang menurunkannya ke liang lahat membaca:
 Bismillahi wa ‘ala millati Rasulillah Saw.
 Artinya: “Dengan nama Allah dan dengan mengikuti agama Rasulullah Saw”.
9. Sebaiknya dan diutamakan yang memasukkah mayat ke dalam kubur ialah muhrimnya (anggota keluarga terdekat), kalau mayat itu perempuan.
10. Tanah timbunan tidak lebih dari tanah galian yang telah dikeluarkan, sehingga kuburan menjadi rata dengan tanah.
11. Dianjurkan memberikan siraman air kepada kuburan.
12. Jika pemakaman sudah rampung, dianjurkan Rasulullah kepada para pengantar memohonkan ampun dan mendoakan al-marhum/almarhumah, karena ketika itu ia sedang ditanya oleh Malaikat.
13. Jika ternyata ditemukan ada bagian anggota badan mayat terpisah, lalu ditemukan kemudian, maka bagian-bagian itu dimandikan dan dishalatkan lalu dikuburkan di sekitar anggota badan lainnya.
14. Boleh menangis, tetapi tidak dibenarkan meratap di atas kuburan. Nabi bersabda: Almarhum atau almarhumah disiksa dikuburan karena ratapan keluarganya terhadapnya”. (Hadis riwayat Bukhari-Muslim).
15. Dianjurkan melakukan ta’ziyah untuk membesarkan hati dan semangat keluarga yang ditinggal, sambil mendoakan al-marhum atau al-marhumah. Tidak diajurkan untuk menjamu makanan atau minuman kepada para tamu kalau itu memberatkan keluarga, tetapi kalau tidak, Rasulullah Saw pernah menganjurkan untuk menjamu makanan kepada pelayat.
Tamat


[ Baca Selengkapnya ]...

Wednesday, August 26, 2009

wujud pengetahuan

. Wednesday, August 26, 2009
0 comments

Bahasan kali ini adalah wujud dan pengetahuan (being and knowledge). Apa yang dimaksud dengan wujud (being)? Kata wujud berasal dari bahasa arab wajada. Yang kita bicarakan wujud di sini adalah wujud dalam pengertian yang sangat dasar.

Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat diketahui. Yang kita anggap wujud ini tidak bisa kita definisikan. Sedangkan kita yang wujud ini sebenarnya hanya akibat dari wujud yang sesungguhnya. Ini sulit kita pahami, karena vocabulary kita tidak bisa menjangkau aspek spiritual ini. Ini satu bukti betapa timpangnya perhatian kita terhadap persoalan ini. Bukan kesalahan kita untuk tidak dapat memahami persoalan ini, tetapi fasilitas yang ada sangat terbatas untuk menjelaskannya.

Ada dua hal yang perlu dijelaskan di sini. Pertama, penyamaan itu lebih dekat pada kesatuan. Kita meminjam bahasa Taoisme, karena inilah yang lebih mudah untuk dapat menjelaskannya. Penyamaan dan perbedaan adalah dua hal yang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.

Kedua, wujud dan hakikat. Kata wujud adalah bahasa Arab dan hakikat juga bahasa Arab, tetapi keduanya sudah menjadi bahasa Indonesia. Wujud adalah eksistensi sedangkan hakikat adalah realitas.

Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat didefiniskan. Yang sesungguhnya berwujud itu tidak dapat kelihatan. Wujud hanya dapat diketahui oleh entitas lain. Wujud hampir sama dengan penjelasan kita terhadap cahaya. Jika kita melihat cahaya, dan kita pastikan cahaya itu ada. Akan tetapi, yang terlihat di situ adalah benda-benda yang tersingkap oleh cahaya.

Jadi, wujud itu sesuatu yang tidak tampak pada dirinya sendiri, tetapi kehadirannya menyebabkan wujudnya objek-objek yang lain. Yang tampak itu objeknya, bukan cahayanya itu sendiri. Wujudnya tidak tampak, tetapi memungkinkan kita untuk melihat wujud-wujud selainnya. Jadi, wujud itu dapat kita ibaratkan dengan cahaya. Hakikat wujud yang sesungguhnya itu sendiri tidak terlihat. Yang terlihat ada ini bukan hakikat wujud, sebagai hakikat wujudnya adalah Allah SWT.

Dulu, ilmu semacam ini sangat dirahasiakan. Jika terus dirahasiakan, maka kapan generasi kita akan mengetahuinya. Oleh karenanya, kita jangan takut menjelaskan ilmu semacam ini. Sebab, kalau kita niat belajar kemudian salah maka akan diluruskan dan tetap mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT. Orang berijtihad kalau salah dapat satu pahala dan kalau benar dapat dua pahala.

Tuhan Mahatahu akan kelemahan kita. Oleh karena itu, kita selalu memperbaiki iman kita dengan kalimah thayyibah. Hanya orang yang merasa sangat dekat dengan Tuhan mau menanyakan pribadi Tuhan. Tidak mungkin menanyakan hal-hal pribadi kepada orang yang tidak dekat. Seperti halnya Nabi Ibrahim AS menanyakan hakikat Tuhan. Begitu juga dengan Nabi Musa AS. Oleh karena itu, awalilah kegiatan semacam ini dengan memohon bimbingan-Nya, ihdinâ al-shirât al-mustaqim.

Dikatakan bahwa wujud bagaikan cahaya, tetapi sesungguhnya tidak sama dengan cahaya. Ini hanya perumpamaan saja untuk mendekatkan kita kepada pemahaman ini. Semakin terang sebuah cahaya semakin sulit kita memahami dan menangkapnya. Wujud tidak bisa didefinisikan dan diketahui. Ia identik dengan essensi ilahi. Wujud merupakan jumlah keseluruhan dari segala sesautu yang diciptakan. Pulpen, komputer dan LCD, misalnya, apakah itu wujud atau benda? Semuanya itu adalah benda yang merupakan akibat dari perwujudan itu.

Saya menggunakan buku-buku karya Ibn 'Araby untuk menjelaskan mengenai konsep wujud ini. Dikatakan, bahwa "Allah sebagai yang satu dan yang banyak." Dari mana datangnya yang banyak? Datangnya yang banyak itu dari yang satu. Allah mengetahui segala sesuatu.

Pengatahuan Allah yang berbilang-bilang ini adalah sumber manifestasi makhluk. Banyak ilmu dan banyak nama, tetapi hanya satu Allah SWT. Objek yang dilihat oleh mata ini sangat banyak, berbilang dan berwarna, tetapi pada hakikatnya adalah manifestasi dari yang wujud. Allah Swt Maha Tunggal atau Maha Esa. Di mana Allah dan di mana makhluknya? Allah tidaklah tergantung kepada makhluk, dan yang tergantung adalah kita. Allah adalah adalah bagaikan Yan dan kita dan seluruh makhluknya adalah Yin. Meskipun ilmu Tuhan bermacam-macam tetapi kalau disedot kembali menjadi satu kepada sumbernya.

Jangan dipertentangkan bahwa Allah SWT Maha Esa sedangkan makhluknya berbilang. "comprehensifness" itu penyatuan antara satu dengan yang lain, sedangkan "all-comprehensifness" adalah keseluruhan dari penyatuan antara yang satu dengan yang lain.

Ketika melihat sifat maskulinitas Tuhan maka kita akan melukiskan bahwa Allah Maha berbeda dengan kita. Sedangkan kalau melihat sifat-sifat Allah yang feminin maka akan ada kesamaan dengan kita. Contoh lain, kriteria apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur bahwa sesuatu itu baik atau buruk? Kambing misalnya, jika ia (anaka kambing) berhubungan badan dengan induknya, apakah baik atau buruk, apa salah atau benar? Bagi penggembala kambing itu baik, karena sebentar lagi populasi kambingnya bertambah. Akan tetapi, kalau perbuatan itu dilakukan manusia, misalnya dilakukan seorang anak kepada ibunya, kita bisa memastikan perbuatan itu buruk dan tidak baik, karena ada norma khusus yang kita gunakan untuk menilainya.

Jadi, tidak semua yang berbeda itu salah atau tidak semua yang sama itu baik, demikian pula sebaliknya. Tergantung nilai dan norma apa yang kita gunakan untuk mengukurnya.

Satu sisi Allah SWT Mahategar, Mahakuat, tetapi pada sisi lain Mahalembut. Bagi Allah itu, tidak ada masalah. Oleh karena itu, kita perlu untuk mengategorikan nama-nama ketakterbandingan Tuhan, seperti al-Jalal (Maha Agung), al-Qahhar (Maha Pemaksa), al-Muntaqim (Maha Penyiksa), al-Jabbar (Maha Memaksa), al-Quddus (Maha Suci), dan lainnya.

Selain itu, kita perlu mengidentifikasi nama-nama keserupaan, seperti al-Jamal (Maha Indah), al-Lathif (Maha Lembut), al-Rahman (Maha Kasih Sayang), al-'Afwu (Maha Pemaaf), al-Ghafur (Maha Pengampun), al-Halim (Maha Penyantun), al-Sabr (Maha Sabar), dan lainnya. Identifikasi semacam ini memiliki implikasi dalam kepribadian kita sebagai hamba dari adanya kedua sisi sifat Tuhan ini.

Pendekatan kita kepada Allah ada dua model yang saling berkontribusi. Pertama, dengan pendekatan fiqh, substansi yang menonjol dalam menyembah Allah SWT adalah ketakterjangkauan Tuhan. Sebab yang dikedepankan dalam fiqh adalah aspek jalâliyah (keagungan/ketakterbandingan) Tuhan, bukan aspek jamâliyah-Nya (keindahan/keserupaan).

Di antara imbas pendekatan fiqh bagi kita adalah takut kepada Allah. Jika ketakutan yang dominan, maka kita harus taat dan tunduk. Ini tidak salah, karena memang fiqh seperti itu.

Pendekatan kedua yaitu pendekatan tasawwuf. Yang ditekankan dalam tasawuf adalah bukan objek Tuhan sebagai sesuatu yang tak terjangkau (transendent) melainkan sebagai sesuatu yang dekat (immanent). Dengan demikian, yang terjadi kemudian adalah kecintaan kita kepada Allah. Dengan kedekatan ini, efek selanjutnya adalah kecintaan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

Kedua pendekatan ini dapat kita lakukan, karena banyak lorong menuju Allah. Orang yang menonjolkan aspek jamâliyah Tuhan dapat melakukan ketaatan dengan ketulusan dan kepasrahan secara otomatis. Sedangkan orang yang lebih mengedepankan aspek jalâliyah Tuhan melakukan ketaatan dengan keterpaksaan dan keberatan.

Orang yang telah mampu menekankan aspek jamâliyah Tuhan akan menjadikan ibadah sebagai rutinitas yang otomatis, bagaikan matahari dan rembulan yang berjalan tepat waktu tanpa berkurang atau lebih.

Yang terbaik tentunya ialah kombinasi kedua model pendekatan itu dan model ini banyak dilakukan oleh para sufi. Lihat misalnya Al-Gazali di dalam kitab monumentalnya, Ihya 'Ulum al-Din. Ketika ia menjelaskan Rukun Islam, ia membahasnya ke dalam dua aspek, yaitu aspek fikih (eksoterik) dan aspek sufistik (esoterik).Shalat, puasa, zakat, dan haji memiliki nuansa fisik lahiriyah dan nuansa batin.

Ibn 'Atha'illah melukiskannya dengan baik: "Barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasih, barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindiq, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai hakekat". Wallahu A'lam.

Tuesday, August 25, 2009

Tuntunan Praktis Sakaratul Maut dan Tajhizul Mayyit (Bagian Pertama)

. Tuesday, August 25, 2009
0 comments

Tuntunan parktis ini dimaksudkan sebagai pedoman mudah untuk menuntun seseorang yang sedang dalam keadaan sakit keras (sakaratul maut) dan tata cara pengurusan jenazah (tajhiz al-mayyit), mulai seseorang baru saja meninggal dunia sampai penyelesaian pemakamannya.

Tuntunan ini disadur dari beberapa kitab fikih, terutama kitab Al-Mughniy, karya Ibn Qudamah. Tuntunan ini juga merujuk kepada pengalaman praktis sejumlah ulama di beberapa tempat dan dalam beberapa kondisi.

Tuntunan praktis ini betujuan membantu keluarga yang sedang mendapatkan cobaan berupa adanya anggota keluarga yang sedang dalam keadaan sakaratul maut atau berpulang ke rahmatullah. Keluarga yang mendapatkan cobaan seperti ini disarankan tidak boleh panik, tetapi dianjurkan segera melakukan tuntunan secara sadar kepada, baik orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut maupun yang sudah meninggal dunia.

Tuntunan Sakaratul Maut

Berdasarkan tuntunan dari Rasulullah Saw, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, baik oleh anggota keluarga, pembesuk orang sakit, maupun orang yang sedang sakit. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menyabarkan orang sakit agar menerima kenyataan itu sebagai bagian dari takdir dan cobaan Tuhan. Tabah menjalani penyakit bagian dari ibadah dan berfungsi sebagai penghapus dosa masa lampau.
2. Jangan membayangkan sesuatu yang menakutkan kepada orang sakit, sebaliknya upayakan membangkitkan semangat, rasa optimis, dan kepasrahan (tawakkal) kepada Allah Swt.
3. Tuntunkan sebuah doa dari Rasulullah terhadap orang sakit sebagai berikut:
Allahumma ahyiniy ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li.
Artinya: “Ya Allah, perpanjanglah hidupku jika itu lebih baik bagiku, dan ambillah aku jika itu lebih baik bagiku”.
4. Anggota keluarga dan para pelayat bisa membantu dengan doa sebagai berikut:
Allahumma ahyihi (ha) ma kanatil hayatu khairan lahu (laha), wa tawaffahu (ha) idza kanatil wafatu khairan lahu (laha).
Artinya: “Ya Allah, panjangkanlah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya”.
5. Doa lain yang dianjurkan dan diajarkan Rasulullah kepada para pembesuk terhadap orang sakit ialah:
Allahumma rabban nasi, mudzhibal basi, isyfi antasy syafi, syifa’an la yughadiru saqaman.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, sembuhkanlah (dia), Engkaulah Zat Yang Maha Penyembuh, Penyembuh yang tidak menyisahkan (penyakit) kepada orang sakit”.
6. Ketika Rasulullah sedang sakit, Jibril membesuknya dan membaca :
Bismillahi arqika, min kulli syai’in yu’dzika, min syarri kulli nafsin wa ‘ainin hasidah, Alhahu yasyfika.
Artinya: “ Atas izin Allah saya mengupayakan kebaikan atasmu, dari segala sesuatu yang membuatmu tersiksa, dari keluhan setiap diri dan mata yang dilemahkan Allah, Allah menyembuhkanmu”.
7. Orang yang sudah dalam keadaan sakaratul maut, anggota keluarga atau pelayat menuntun orang sakit untuk membaca atau mengikuti dalam hati lafaz tahlil: La ilaha illal Lah, Muhammadur Rasulullah, berkali-kali, sampai orang sakit menghembuskan napas terakhir. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat La ilaha illal Lah, maka yang bersangkutan akan masuk surga”.
8. Para pelayat lainnya dianjurkan membaca surah Yasin, untuk meringankan beban orang yang sedang zakaratul maut, sesuai anjuran Rasulullah Saw.

Tuntunan Tajhizul Mayit

Seseorang dinyatakan meninggal dunia jika sudah mengalami tanda-tanda antara lain sebagai berikut:
1. Denyut jantung sudah berhenti total.
2. Sebelumnya, bagi yang meninggal secara normal, biasanya diawali dengan rasa dingin ujung jari-jari kaki, kemudian berangsur-angsur naik ke bagian atas anggota badan.
3. Biasanya dada mulai kedengaran bunyi sesak napas, lalu disusul dengan bunyi di tenggorokan.
4. Biasanya yang bersangkutan mengambil dan membuang napas dari mulut.
5. Kemudian perlahan-lahan pandangan matanya menengok ke atas. Umumnya orang yang akan meninggal matanya menengadah ke atas, seperti kata Rasulullah: “Sesungguhnya apabila roh seseorang dicabut, maka tatapan matanya akan menyertainya”.
6. Bisa juga, dan lebih baik, jika pemberitaan kematian itu dinyatakan oleh dokter.

Catatan: Euthanasia, yakni melakukan upaya sadar untuk mempercepat proses kematian seseorang, masih menjadi kontroversi di kalangan ulama. Euthanasia ada dua macam, yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif.

Euthanasia aktif, yakni melakukan upaya aktif untuk mempercepat proses kematian seseorang, seperti tindakan seseorang dokter yang memberikan suntikan melebihi dosis kepada pasien, meskipun menurutnya sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup. Umumnya para ulama mengharamkan euthanasia aktif, bahkan di antara mereka ada yang menganggapnya sebagai pembunuh yang dapat dikenakan ancaman pembunuhan bagi yang melakukannya.

Euthanasia pasif, yakni tindakan sadar untuk tidak melakukan upaya dan pertolongan maksimal lebih lanjut terhadap seorang pasien yang dinyatakan sudah mati suri dan tidak akan ada lagi harapan untuk hidup menurut kesimpulan tim dokter. Euthanasia seperti ini umumnya para ulama menganggaap wajar dan boleh. Akan tetapi, kita harus hati-hati terhadap penghentian mekanisme kerja alat-alat berat yang menolong pernapasan si penderita, bisa saja dianggap eutanasia aktif, jika si pasien masih ada kemungkinan untuk mempertahankan hidup.

Jika seseorang sudah dinyatakan telah meninggal, maka hal-hal yang segera harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Anggota keluarga dan pelayat dianjurkan Rasulullah membaca ayat 83 dari surah Yasin: Fasubhanal ladzi bi yadihi malakutu kulli syai’in wa ilaihi turja’un.
2. Orang lain yang mendengarkan berita kematian ini dianjurkan membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
3. Setelah itu, mayat segera ditutup rapat kelopak mata dan mulutnya, sambil membaca: Bismillahi wa ’ala wafati ……(nama yang meninggal disebutkan). Misalnya: Bismillahi wa ‘ala wafati Muhammad. Para pelayat dianjurkan mendoakan yang meninggal, seperti diajarkan Rasulullah:
Allahummaghfir ………(sebut nama orang yang meninggal), warfa’ darajatahu (ha) fil mahdiyyin al-muqarrabin, wakhlufhu (ha) fi ‘aqibihi fil ghairin, waghfir lana walahu (ha) ya Rabbal ‘alamin.
Catatan: Sebut hu kalau laki-laki dan ha untuk perempuan.
4. Setelah itu, kedua kakinya dirapatkan dan kedua tangannya dilipat menyerupai lipatan tangan orang sedang shalat, tangan kiri di bagian dalam dan tangan kanan di bagian luar.
5. Biasanya sulit untuk menutup mata, menutup mulut, melipat tangan, dan merapatkan kaki, jika terlambat dan mayat sudah mengeras. Jika hal itu terjadi, biasanya dapat diatasi dengan menarik kedua ibu jari kaki si mayat sambil menutup mata dan mulutnya.
6. Kemudian, posisi tidurnya diubah menghadap ke kiblat, membentang seperti bentangan mayat di dalam kubur.
7. Mayat ditutupi seluruh anggota badannya dengan kain bersih.
8. Jika satu dan lain hal, mayat itu harus menunggu sesuatu, misalnya untuk diotopsi atau menunggu anggota keluarga dekat, atau hal-hal yang darurat lainnya, maka mayat harus diamankan dari segala sesuatu yang bisa mengganggu si mayat, misalnya kerumunan semut atau lalat. Bahkan sebaiknya diupayakan bahan-bahan tertentu yang bisa mempertahankan keutuhan dan kesegaran mayat.
9. Memberikan wewangian atau bahan-bahan lain yang bisa mencegah bau busuk dari mayat.


Rujukan
Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’I, Ibn Majah dan Ahmad Ibn Hanbal. Lihat dalam Ibn Qudamah, Al-Mughny, Juz III, Kairo: al-Thiba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’ wa al-I’lan, 1987, h. 360.

Monday, August 24, 2009

Maskulin Feminin dalam Sifat-sifat Tuhan

. Monday, August 24, 2009
0 comments

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Q.S.Al-Zariyat/51:49)

Ayat ini mengisyaratkan segala sesuatu selain Tuhan diciptakan berpasang-pasangan (za­ja³n). Bukan hanya manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai pasangan, laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina, tetapi juga makhluk-makhluk lain seperti makhluk kosmologis. Di balik konsep berpasang-pasangan (azwaj) ini ada dua kualitas yang bekerja secara aktif dan mekanik, yaitu kualitas kejantanan dan ketegaran (masculinnity/struggeling) dan kualitas kelembutan dan kepengasihan (femininity/nurturing).

Al-Qur'an sering kali menyebutkan fenomena kosmologi yang berpasang-pasangan, seperti langit dan bumi , siang dan malam dan musim dingin dan musim panas, dunia dan akhirat , syurga dan neraka , alam gaib dan alam nyata . Yang lebih istimewa pasangan-pasangan makrokosmos ini mempunyai jumlah yang sama di dalam Al-Qur'an, meskipun masa turunnya Al-Qur'an berlangsung sekitar 23 tahun.

Kemahaesaan Tuhan dapat difahami melalui kenyataan bahwa seluruh makhluk Tuhan diciptakan berpasang-pasangan dan hanya Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya Dia yang tidak butuh pasangan. Dia Yang Esa, baik dalam Esensi maupun dalam sifat. Karena itu, Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan segala sesuatu, "Tiada sesuatu yang menyerupai-Nya" (Q.S.Al-Syura/42:11).

Pada makhluk biologis, setiap pasangan mempunyai hubungan fungsional, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Masing-masing pasangan mempunyai ketergantungan antara satu dengan yang lain. Demikian pula makhluk-makhluk alam lainnya. Untuk menyatakan adanya siang diperlukan adanya malam, sulit dimengerti adanya sinar terang tanpa adanya kegelapan. Musim dingin baru dapat dimengerti setelah adanya musim panas. Seseorang tidak akan pernah memahami secara mendalam arti sebuah kesehatan jika tidak pernah sakit. Pengecualian terjadi dalam hal Pencipta (Al-Khaliq) dan ciptaan-Nya (al-makhl­q). Makhluk sangat tergantung kepada Khaliqnya, tetapi tidak sebaliknya.

Tuhan tidak masuk dalam konsep azwaj, karena Tuhan adalah Maha Mandiri, sebaliknya seluruh makhluk-Nya tidak ada yang mandiri secara paripurna. Eksistensi setiap makhluk ditentukan oleh hubungan horizontalnya dengan pasangannya dan secara vertikal oleh khaliq-nya. Termasuk manusia dan binatang, keutuhannya terletak pada hubungan interaktifnya dengan pasangannya, laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina.

Dalam dunia tasawuf, konsep azwaj dikaji lebih mendalam. Menurut Nasafi, Tuhan Yang Maha Mandiri di mana segala sesuatu tergantung kepada-Nya , dianggap sebagai Zat Yang Wajib Wujudnya sementara makhluk-Nya disebut zat yang munkin wujudnya , karena keberadaannya sangat tergantung kepada kehendak-Nya dan keutuhan dan kelestariannya sangat tergantung kepada interaksi pasangannya. Dicontohkan langit dan bumi; langit memberi atau melimpahkan (al-faidl) dan bumi menerima atau menampung (istifadlah/. Menurut Jalaluddin Rumi, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Hubungan antara keduanya sebagaimana layaknya hubungan antara laki-laki dan perempuan, atau menurut Murata hubungan antara keduanya dapat diterangkan melalui hubungan yang dan ying dalam Taoisme.

Ibn 'Arabi juga memberikan pernyataan yang hampir sama. Langit diumpamakan dengan suami dan bumi diumpamakan dengan isteri dalam kehidupan rumah tangga. Jika langit menurunkan airnya kepada bumi maka akan lahirlah berbagai makhluk biologis seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. Demikian pula halnya manusia, penurunan air (sperma) kepada perempuan menyebabkan tumbuhnya janin dalam rahim dan selanjutnya lahir sebagai manusia.

Dan Allah menjadikan bumi bagaikan isteri dan langit bagaikan suami.Langit membeikan kepada bumi sebagian dari perintah yang diwahyukan Tuhan, sebagaimana laki-laki memberikan air ke dalam diri perempuan melalui "hubungan suami-isteri". Ketika pemberian itu berlangsung, bumi mengeluarkan seluruh tingkatan benda-benda yang dilahirkan yang disembunyikan Tuhan di dalamnya.

Konsep perkawinan dalam pandangan sufi lebih luas dari pada sekedar apa yang dirumuskan dalam Fikih Perkawinan , yaitu peraturan perkawinan dan akibat-akibat hukum sebuah perkawinan. Kalangan sufi mengenal Perkawinan Makrokosmos (Macrocosmic Marriage), meliputi perkawinan hubungan-hubungan tertentu antara benda atau sifat yang berpasangan, seperti hujan mengawini tanah.

Komposisi ideal kualitas maskulin-feminin tergambar di balik 99 nama-Nya dalam Al-Asma` al-Husna, sebagaimana dapat di lihat sebagai berikut:

Kualitas Maskulin
1. Al-Jabbar (Yang Maha Pemaksa)
2. Al-Qawiy (Yang Maha Kuat)
3. Al-Muntaqim (Y.M. Penyiksa)
4. Al-Qahhar (Y.M.Menguasai)

Kualitas Feminin
1. Al-Rahim (Yang Maha Penyayang)
2. Al-Lathif (Y.M.Lembut)
3. Al-Gaf­r (Y.M.Pengampun)
4. Al-Hakim (Y.M.Bijaksana)

Orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat maskulin Tuhan, akan didominasi rasa: aktif, progresif, kuasa, independen, jauh, dan dominan (struggeling). Sedangkan orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat feminin Than akan didominasi rasa: pasrah, berserah diri, dekat, kasih dan pemelihara (nurturing).

Orang yang lebih menekankan aspek maskulinitas Tuhan, ia seringkali membayangkan Tuhan transenden, jauh, dan lebih memilih untuk menakuti-Nya. Sedangkan orang yang lebih menekankan aspek feminin Tuhan, ia membayangkan Tuhan immanen, dekat, dan lebih memilih untuk mencintai-Nya.

Sikap yang pertama akan memberikan efek seseorang harus hati-hati dalam berbuat, karena Tuhan itu Maha Adil (al-'Adl). Sedangkan yang kedua akan memberikan efek optimisme dalam menjalani kehidupan, karena Tuhan itu Maha Pemaaf (al-'Afuw).

Pendekatan pertama bisa melahirkan sikap formalisme beragama, karena membayangkan Tuhan itu Maha Penuh Perhitungan (al-Hasib). Sedangkan yang kedua bisa melahirkan sikap permissif dan seberono, karena membayangkan Tuhan Maha Penyayang (al-Rahman) dan Maha Pengampun (al-Gafur).

Yang ideal ialah seperti sabda Rasulullah: berakhlaklah sebagaimana akhlak Tuhan, yaitu kombinasi ideal antara kualitas maskulin dan kualitas feminin, seperti yang dicontohkan Rasulullah sebagai uswah al-Hasanah, yang "akhlaknya adalah Al-Qur'an".

Nama-nama indah Tuhan (al-asma` al-Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai dengan lafz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman (Yang Maha Pengasih), al-Rahim (Yang Maha Penyayang), dan seterusnya sampai ke angka 99, al-Shabr (Yang Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih. Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah cyrcle, bermula dan berakhir pada satu titik, atau menurut istilah Al-Qur`an: inna li Allah wa inna ilaih raji'un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Dalam perspektif tasawuf, nama-nama indah Tuhan bukan hanya menunjukkan sifat-sifat Tuhan, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga yang bersangkutan tetap bisa eksis kembali dan tidak perlu kehilangan semangat hidup. Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan?

Allah bukan hanya memiliki sifat-sifat maskulin ("The Father God"), tetapi juga memiliki, bahkan lebih dominan dengan sifat-sifat feminin ("The Mother God"). Ada kecenderungan di dalam masyarakat sifat-sifat maskulinitas Tuhan lebih ditonjolkan, seperti Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-'Aziz), dan Maha Pembalas/Pendendam (al-Muntaqim), bukannya menonjolkan sifat-sifat femininitas-Nya, seperti Tuhan Maha Penyayang (al-Rahim), Maha Lembut (al-Lathif), dan Maha Pema'af (al-'Afuw), sehingga Tuhan lebih menonjol untuk ditakuti dari pada dicintai. Efek psikologis yang muncul karenanya, manusia menyembah dan sekaligus mengidealkan identifikasi diri dengan "The Father God", yang mengambil ciri dominan, kuasa, jauh, dan struggeling, bukannya dengan "The Mother God", yang mengabil ciri berserahdiri, kasih, dekat, dan nurturing. Idealnya, komposisi kualitas maskulin dan feminin menyatu di dalam diri manusia, sebagaimana halnya keutuhan kedua kualitas itu menyatu di dalam Diri Tuhan, seperti tercermin di dalam al-asma` al-Husna, dan sebagaimana juga dipraktekkan Rasulullah saw.

Allah swt, adalah Tuhan segala sesuatu, Tuhan makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Ia bagaikan setitik air di tengah samudra. Bumi tempat ia hidup bagaikan sebuah titik di antara jutaan planet dalam galaksi bimasakti. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khala`if al-ardl), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah swt, lebih menonjol sebagai Tuhan manusia dari pada Tuhan makrokosmos, karena pemahaman yang demikian dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengekploitasi alam raya sampai di luar amban daya dukungnya; bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan. Sepantasnya kita menyadari bahwa konsep al-asma` al-Husna adalah konsep alam semesta. Tuhan tidak hanya memperhatikan kepentingan manusia, atau Tuhan tidak hanya kepada manusia, sebagaimana kesan dan pemahaman sebagian orang terhadap konsep penundukan alam raya (taskhir) kepada manusia. Seolah-olah konsep taskhir adalah "SIM" untuk menaklukkan alam semesta. Padahal, konsep taskh³r sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Bijaksana (al-Hakim), yang mengacu kepada keseimbangan kosmis dan ekosistem.

Manusia yang paling berkualitas di mata Allah swt ialah yang paling bertaqwa (Q.S. Al-Hujurat/49:13), yaitu "orang-orang yang menafkahkan (hartanya), naik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) oraang" (Q.S.Ali 'Imran/3:133). Dari ayat ini difahami bahwa kualitas sejati di sisih Allah swt ialah orang-orang yang mengaktifkan komposisi kualitas maskulin dan feminin. Sikap seperti inilah yang akan melahirkan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian di dalam masyarakat.

Dalam menyukseskan kedua misi manusia di bumi, yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba ('abid), komposisi kedua sifat ini juga santa penting. Kualitas maskulin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai khalifah dan kualitas feminin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai abid. Namun, separasi ini tidak berarti pemisahan secara total, karena misi kekhalifahan hanya dijalankan dengan kualitas maskulin, maka kemungkinan besar yang akan terjadi ialah disrupsi dan kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial, serta ketimpangan ekologis. Sebaliknya, mengeliminir kualitas maskulin dalam menjalankan misi manusia sebagai 'abid, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah fatalisme keagamaan, yakni kesalehan individual yang tidak membawa dampak ke dalam kehidupan sosial.

Idealnya, jika komposisi kedua kualitas ini menyatu dalam diri setiap orang, maka yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahmatan li al-'alam³n) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldah Thayyibah wa Rab al-Gafur) di tingkat mikrokosmos.

IQ,EQ dan SQ dalam Al-Qur'an

.
0 comments

Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayaw±n al-n±thiq (spesies yang berfikir) ternyata dianggap keliru. Visi baru para ilmuan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

IQ ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas akal yang berpusat di otak, EQ ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas emosional yang berpusat di dalam jiwa, dan SQ ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas rohani yang mengambil lokus di sekitar wilayah roh.

Ketiga aktifitas kreatif di atas mengingatkan kita kepada tiga konsep struktur kepribadian Sigmund Freud (1856-1939), yaitu id, ego, dan superego. Id adalah pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir. Id ini menjadi inspirator kedua struktur berikutnya. Ego, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari Id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problem subyektif individual dan memelihara agar bertahan hidup (survival) dalam dunia realitas. Superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. Superego juga selalu mengingatkan dan mengontrol Ego untuk senantiasa menjalankan fungsi kontrolnya terhadap id.[1]

Meskipun tidak identik, IQ dapat dihubungkan dengan Id, Ego dapat dihubungkan dengan EQ, dan Superego dapat dihubungkan dengan SQ.

Pemilik IQ tinggi bukan jaminan untuk meraih kesuksesan. Seringkali ditemukan pemilik IQ tinggi tetapi gagal meraih sukses; sementara pemilik IQ pas-pasan meraih sukses luar biasa karena didukung oleh EQ. Mekanisme EQ tidak berdiri sendiri di dalam memberikan kontribusinya ke dalam diri manusia tetapi intensitas dan efektifitasnya sangat dipengaruhi oleh unsur kecerdasan ketiga (SQ).

SQ sulit sekali diperoleh tanpa kehadiran EQ, dan EQ tidak dapat diperoleh tanpa IQ. Sinergi ketiga kecerdasan ini biasanya disebut multiple intelligences yang bertujuan untuk melahirkan pribadi utuh (“al-insan al-kamilah). Untuk penyiapan SDM di masa depan, internalisasi ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat ditawar lagi.

Di dalam Al-Qur’an, ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dijelaskan secara terperinci. Namun, masih perlu dikaji lebih mendalam beberapa kata kunci yang berhubungan dengan ketiga pusat kecerdasan yang dihubungkan dengan ketiga substansi manusia, yaitu unsur jasad yang membutuhkan IQ, unsur nafsani yang membutuhkan EQ, dan unsur roh yang membutuhkan SP.

Substansi Manusia dalam Al-Qur’an
Substansi manusia dalam Al-Qur’an mempunyai tiga unsur, yaitu unsur jasmani, unsur nafsani, dan unsur rohani. Keterangan seperti ini dapat difahami di dalam beberapa ayat, antara lain Q.S. al-Mu'min­n/23:12-14 sebagai berikut:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik (14).

Kata dalam ayat ini menurut para mufassir dimaksudkan sebagai unsur rohani setelah unsur jasad dan nyawa (nafs±ni). Hal ini sesuai dengan riwayat Ibn Abbas yang menafsirkan kata dengan (penciptaan roh ke dalam diri Adam)[2] Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur ruhani, atau lahut atau malakut. yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus merupakan penyempurnaan substansi manusia sebagaimana ditegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam Q.S. al-Hijr/15:28-29:


Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.

Setelah penciptaan unsur ketiga ini selesai maka para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepadanya dan alam raya pun ditundukkan (taskhir) kepada Adam. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas mamnusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi (Q.S. al-An‘am/6:165) di samping sebagai hamba (Q.S. al-zariyat/51:56).

Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4), ia tidak mustahil akan turun ke derajat "paling rendah" (asfala safilin/Q.S. al-Tin/95:5), bahkan bisa lebih rendah daripada binatang (Q.S. al-A‘raf/7:179). Eksistensi kesempurnaan manusia dapat dicapai manakala ia mampu mensinergikan secara seimbang potensi kecerdasan yang dimilikinya, yaitu kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsani (EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ).

Kecerdasan Intelektual (IQ)
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %.

Otak dapat dibagi menjadi otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki fungsi analisis dan otak kanan memiliki fungsi kreatif. Meskipun masih banyak ditentang, kalangan imuan mengidentifikasi otak kiri sebagai orak feminin dan otak kanan sebagai otak maskulin. Walaupun terpisah tetapi keduanya saling berhubungan secara fungsional. Kelainan akan terjadi manakala hubungan fungsional itu terganggu.

Wilayah aktifitas otak juga dapat dibedakan antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Wilayah pikiran sadar hanya sekitar 12 % dan selebihnya (88%) adalah wilayah pikiran bawah sadar. Di antara kedua wilayah ini, ada garis pemisah yang disebut Reticular Activating System (RAT), yang berfungsi untuk menyaring informasi tidak perlu atau berlebihan supaya kita tetap bisa waras. Di wilayah bawah sadar tersimpan semua ingatan dan kebiasaan, kepribadian dan citra diri kita.

Di dalam sistem otak kita ada suatu bagian yang disebut limbik (otak kecil), terletak di bawah tulang tengkorak di atas tulang belakang. Otak kecil ini ditemukan oleh para ilmuan memiliki tiga fungsi, yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas, dan mengontrol pusat-pusat kenikmatan.

Dari sini difahami bahwa otak dan emosi memiliki hubungan yang fungsional yang saling menentukan antara satu dan lainnya. Penelitian Rappaport di tahun 1970-an menyimpulkan bahwa emosi tidak hanya diperlukan dalam penciptaan ingatan, tetapi emosi adalah dasar dari pengaturan memori. Orang tidak akan pernah mencapai kesuksesan dalam bidang apapun kecuali mereka senang menggeluti bidang itu. Jadi untuk mengoptimalkan kecerdasan intelektual yang biasa disebut dengan accelerated learning, tidak dapat dicapai tanpa bantuan aktifitas emosional yang positif.[3]

Di dalam Al-Qur’an, kecerdasan intelektual dapat dihubungkan dengan beberapa kata kunci seperti kata??? (saecara harfiah berarti mengikat) yang terulang sebanyak 49 kali dan tidak pernah digunakan dalam bentuk kata benda (ism) tetapi hanya digunakan dalam bentuk kata kerja (fi’il), yaitu bentuk fi’il madli sekali dan bentuk fi’il mudlari’ 48 kali. Penggunaan kata ‘aql dalam ayat-ayat tersebut pada umumnya digunakan untuk menganalisis fenomena hukum alam (seperti Q.S. al-Baqarah/2:164) dan hukum-hukum perubahan sosial (seperti Q.S. al-‘Ankab­t/29:43).

Selain kata ‘aql juga dapat dihubungkan dengan predikat orang-orang yang mempunyai kecerdasan intelektual seperti kata (orang-orang yang mempunyai pikiran) yang terulang sebanyak 16 kali. Seorang yang mencapai predikat ul­ al-bab belum tentu memiliki kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, karena masih ditemukan beberapa ayat yang menyerukan kepada kaum ul­ al-bab untuk bertakwa kepada Allah Swt (Q.S.al-Maidah/5:100 dan S. al-Thalaq/65:10). Namun, ul­ al-bab juga dapat digunakan bagi pemilik IQ yang sudah menyadari akan adanya kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi di balik kemampuan akal pikiran (Q.S. al-Baqarag/2:269 dan S. al-Zumar/39:9). Dan masih banyak lagi istilah yang mengisyaratkan aktifitas kecerdasan intelektual kesemuanya itu dapat disimpulkan bahwa ontologi akal hanya terbatas pada obyek-obyek yang dapat diindera, kepada obyek-obyek yang bersifat metafisik.

Penguasaan kecerdasan intelektual bukan jaminan untuk memperoleh kualitas iman atau kualitas spiritual yang lebih baik, karena terbukti banyak orang yang cerdas secara intelektual tetapi tetap kufur terhadap Tuhan. Hal ini juga ditegaskan di dalam Q.S.al-Baqarah/2:75:


Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Q.S.al-Baqarah/2:75).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa bahwa kecerdasan intelektual terkadang digunakan untuk meligitimasi kekufuran. Padahal, idealnya kecerdasan intelektual digunakan untuk memperoleh kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Seorang ilmuan yang arif tidak berhenti pada level kecerdasan intelektual tetapi melakukan sinergi dengan kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Inilah makna simbol ayat pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an: Iqara’ bi ism Rabbik: “Membaca” harus selalu dikaitkan dengan “nama Tuhan”.


Kecerdasan Emosional[4] (EQ)
Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Seseorang dapat melakukan sesuatu dengan didorong oleh emosi, dalam arti bagaimana yang bersangkutan dapat menjadi begitu rasional di suatu saat dan menjadi begitu tidak rasional pada saat yang lain. Dengan demikian, emosi mempunyai nalar dan logikanya sendiri. Tidak setiap orang dapat memberikan respon yang sama terhadap kecenderungan emosinya. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi.

Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Daniel Goleman menggambarkan bahwa otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa keserdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.[5]

Jenis dan sifat emosi dapat dikelompokkan sebagai berikut:

- Amarah: Bringas, mengamuk, benci, marah besar, jenkel, kesal hati, terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, sampai kepada kebencian bersifat patologis.
- Kesediahan: Pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.
- Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, tidak tenang, negeri, kecut, fobia, dan panik.
- Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, dan batas ujungnya mania.
- Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih.
- Terkejut: terkesima, takjub, terpana.
- Jengkel: hina, jijik, muak, mual, dan benci.
- Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, aib, dan hati hancur lebur.[6]

Kelompok-kelompok emosi tersebut di atas menurut Paul Ekman dari Universitas California, akan menampilkan ekspresi wajah yang Universal di hampir seluruh etnik, artinya dari suku dan etnik manapun seorang yang mengalami berbagai jenis emosi di atas akan menampilkan ekspresi raut muka yang sama.[7]

Di dalam Al-Qur’an, aktifitas kecerdasan emosional seringkali dihubungkan dengan kalbu. Oleh karena itu, kata kunci utama EQ di dalam Al-Qur’an dapat ditelusuri melalui kata kunci (kalbu) dan tentu saja dengan istilah-istilah lain yang mirip dengan fungsi kalbu seperti jiwa (???), intuisi, dan beberapa istilah lainnya.

Jenis-jenis dan sifat-sifat kalbu (qalb) dalam Al-Qur’an dapat sikelompokkan sebagai berikut:

* Kalbu yang positif :
1. Kalbu yang damai (Q.S. al-Syura/26:89).
2. Kalbu yang penuh rasa takut (Q.S.Qafl50:33)
3. Kalbu yang tenang (Q.S. al-Nahl/16:6)
4. Kalbu yang berfikir (Q.S.al-Haj/2:46)
5. Kalbu yang mukmin (Q.S.al-Fath/48:4)

* Kalbu tang Negatif:
1. Kalbu yang sewenang-wenang (Q.S. Gafir/40:35)
2. Kalbu yang sakit (Q.S. al-Ahdzab/33:32)
3. Kalbu yang melampaui batas (Q.S.Yunus/10:74)
4. Kalbu yang berdosa (Q.S.al-Hijr/15:12)
5. Kalbu yang terkunci, tertutup (Q.S.al-Baqarah/2:7)
6. Kalbu yang terpecah-pecah (Q.S.al-Hasyr/59:14)

Kalau qalb di atas dapat diartikan sebagai emosi maka dapat difahami adanya emosi cerdas dan tidak cerdas. Emosi yang cerdas dapat dilihat pada sifat-sifat emosi positif dan emosi yang tidak cerdas pada sifat-sifat emosi negatif.

Eksistensi kecerdasan emosional dijelaskan dengan begitu jelas di dalam beberapa ayat berikut ini:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S.al-Haj/22:46)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.al-A’raf/5:179)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S.al-Jatsiyah/45:23)

Ayat-ayat tersebut di atas cukup jelas menggambarkan kepada kita bahwa faktor kecerdasan emosional ikutserta menentukan eksistensi martabat manusia di depan Tuhan. Menurut S.H.Nasr, emosi inilah yang menjadi faktor penting yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya makhluk eksistensialis, yang bisa turun-naik derajatnya di mata Tuhan. Binatang tidak akan pernah meningkat menjadi manusia dan malaikat tidak akan pernah “turun” menjadi manusia karena mereka tidak memiliki unsur kedua dan unsur ketiga seperti yang dimiliki manusia.[8]

Upaya mendapatkan kecerdasan emosional dalam Islam sangat terkait dengan upaya memperoleh kecerdasan spiritual. Keduanya mempunyai beberapa persamaan metode dan mekanisme, yaitu keduanya menuntut latihan-latihan yang bersifat telaten dan sungguh-sungguh (muj±hadah) dengan melibatkan “kekuatan dalam” (inner power) manusia. Bedanya, mungkin terletak pada sarana dan proses perolehan. Aktifitas kecerdasan emosional seolah-olah masih tetap berada di dalam lingkup diri manusia (sub-conciousnes), sedangkan kecerdasan spiritual sudah melibatkan unsur asing dari diri manusia (supra-conciousnes).

Kecerdasan Spiritual (SQ)
Kecerdasan spiritual menjadi salah satu wacana yang mulai mencuak akhir-akhir ini. Wacana ini muncul seolah-olah kelanjutan dari wacana yang pernah dipopulerkan oleh Daniel Goleman dengan Emotional Intelligence-nya. Kini sudah mulai bermunculan karya-karya baru tentang kecerdasan ketiga ini dengan metode pembahasan yang berbeda-beda. Yang lebih menarik lagi karena buku-buku ini muncul di dunia Barat. Apakah ini pertanda bahwa Barat kini sudah mulai melakukan reorientasi pandangan hidup atau karena sedang terjadi suatu krisis di Barat.

Kalangan ilmuan kini semakin sadar betapa pentingnya manusia kembali berpaling untuk memahami dirinya sendiri lebih mendalam. Sebab hanya dengan mengandalkan kecerdasan intelektual saja manusia tidak akan sampai kepada martabat yang ideal. Atas dasar inilah, Danah Zohar dan Ian Marshal menerbitkan satu buku yang amat menarik yang diberinya judul: SQ Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence. Dalam buku ini diawali dengan tinjauan secara kritis kelemahan-kelemahan dunia Barat dalam kurun waktu terakhir ini karena mengabaikan faktur kecerdasan spiritual ini. Sebaliknya, buku ini memberikan apresiasi yang sangat positif terhadap niulai-nilai humanisme ketimuran yang dikatakannya lebih konstruktif daripada nilai-nilai humanisme yang hidup di Barat.[9]

Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan yang baru. Bahkan masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para sufi. Kecerdasan spiritual (SQ) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia. Seperti telah dijelaskan terdahulu bahwa manusia mempunyai substansi ketiga yang disebut dengan roh. Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah Swt tanpa melibatkan pihak-pihak lain, sebagaimana halnya proses penciptaan lainnya. Hal ini dapat difahami melalui penggunaan redaksional ayat sebagai berikut:

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S.al-Hijr/15:29)


Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (Q.S.Shad/38:72).

Ayat tersebut di atas menggunakan kata (dari ruh-Ku) , bukan kata (dari roh Kami) sebagaimana lazimnya pada penciptaan makhluk lain. Ini mengisyaratkan bahwa roh yang ada dalam diri manusia itulah yang menjadi unsur ketiga (???? ???) dan unsur ketiga ini pula yang menyebabkan seluruh makhluk harus sujud kepada Adam. Ini menggambarkan seolah-olah ada obyek sujud lain selain Allah. Unsur ketiga ini pula yang mem-backup manusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi.

Kehadiran roh atau unsur ketiga pada diri seseorang memungkinkannya untuk mengakses kecerdasan spiritual. Namun, upaya untuk mencapai kecerdasan itu tidak sama bagi setiap orang. Seorang Nabi atau wali tentu lebih berpotensi untuk mendapatkan kecerdasan ini, karena ia diberikan kekhususan-kekhususan yang lebih dibanding orang-orang lainnya. Namun tidak berati manusia biasa tidak bisa mendapatkan kecerdasan ini.

Kisah menarik di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya seorang anak manusia bernama Khidlir ditunjuk menjadi guru spiritual Nabi Musa. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Musa baru saja mencapai kemenangan dengan tenggelamnya Raja Fir’an ke dasar laut. Seseorang datang bertanya kepada Nabi Musa, apakah masih ada orang yang lebih hebat dari anda? Secara spontanitas Nabi Musa menjawab tidak ada. Seketika itu Allah Swt memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada seseorang, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Kahfi/17:65 sebagai berikut:

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Ketika Nabi Musa diterima sebagai murid dengan persyaratan Musa harus bersabar dan tidak diperkenangkan untuk bertanya secara logika, maka setelah keduanya tiba di suatu tempat, ditemukan sejumlah perahu nelayang yang ditambatkan di pantai. Sang guru lalu melubangi satu demi satu perahu itu. Nabi musa tergoda untuk bertanya, apa arti perbuatan gurunya, bukankah perahu nelayan ini satusatunya alat mata pencaharian nelayan miskin di desa ini? Khidlir mengingatkan perjanjian yang telah disetujui, Musa belum diperkenankan untuk bertanya, kemudian Musa minta maaf lalu keduanya melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di satu tempat, keduanya menjumpai segerombolan anak-anak kecil sedang bermain-main lau salah seorang dari anak-anak itu ditangkap lalu dibunuh oleh sang guru. Nabi Musa kembali mengintrubsi gurunya dengan mengatakan, ini apa artinya? Bukankah anak ini belum mempunyai dosa? Akhirnya Nabi Musa kembali harus meminta maaf atas kelancangannya. Setelah tiba di suatu tempat, keduanya menjumpai tembok tua yang hampir roboh, kemudian keduanya berhari-hari membangun kembali bangunan tembok tua itu. Setelah selesai dipugar, Khidlir mengajak Nabi Musa untuk meninggalkan tepat itu. Musa pun kembali bertanya, ini untuk apa semua dilakukan? Untuk yang ketiga kali ini, Nabi Musa tidak lagi dapat dianggap sabar untuk menjadi murid dan Musa pun sudah tabah untuk tidak lagi melanjutkan pelajaran kepada gurunya. Sebelum keduanya berpisah, sang guru tidak lupa menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah ia lakukan.

Gurunya memberikan penjelasan bahwa para pemilik perahu nelayan itu kini sedang berutang budi terhadap orang yang pernah melubangi peruhunya. Mereka bersyukur karena seandainya perahu tidak dilubangi sudah barang tentu perahu itu ikut dijarah oleh pasukan Raja dlalim yang merayakan hari ulangtahunnya di laut. Anak itu sengaja dibunuh karena Khidlir diberikan ilmu khusus dari Allah Swt bahwa anak itu kalau sudah besar akan menjadi racun di dalam masyarakatm termasuk mengkufurkan kedua orang tuanya, sementara kedua orang tua anak tersebut masih akan dikaruniai anak-anak yang shaleh. Tembok tua itu dipugar karena di bawah tembok itu tersimpan harta karun yang luar biasa besarnya, sementara pemiliknya masih dalam keadaan bayi. Tembok itu akan roboh ketika anak itu sudah besar dan sudah dapat mendayagunakan hartanya[10]

Kisah simbolik ini mengisyaratkan adanya tingkatan-tingkatan kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki Khidlir dapat dikategorikan kecerdasan spiritual. Sementara model kecerdasan yang ditampilkan Nabi Musa adalah kecerdasan intelektual. Kisah ini juga mengisyarakan bahwa kecerdasan spiritual tidak hanya dapat diakses oleh para Nabi tetapi manusia yang buka Nabi pun berpotensi untuk memperolehnya.

Pengalaman Al-Gazali dan Ibn Arabi
Al-Gazali sesungguhnya sudah lama telah memperkenalkan model kecerdasan spiritual ini dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep muk±syafah dan konsep ma’rifah-nya. Menurut Al-Gazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk muasyafah (ungkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan. Roh tidak lagi terselubung oleh khayalan pikiran dan akal pikiran tidak lagi menutup penglihatan terhadap kenyataan Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan-kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa. Mukasyafah ini juga merupakan sasaran terakhir dari para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya dalam di atas kepastian. Kepastian yang mutlak tentang sebuah kebenaran hanya mungkin ada pada tingkat ini.[11]

Kecerdasan spiritual menurut Al-Gazali dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan “kata-kata” yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya dengan maksud supaya disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk_nya. Sedangkan ilham hanya merupakan “pengungkapan” (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan melalui batinnya. Al-Gazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali tetapi diperuntukkan kepada siapapun juga yang diperkenankan oleh Allah.

Menurut Al-Gazali, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini Al-Gazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. Ilham berada di wilayah supra conciousnes sedangkan intuisi hanya merupakan sub-conciousnes. Allah Swt sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah Swt, itulah yang disebut ‘Ilm al-Ladunny oleh Al-Gazali.[12]

Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai, karena kepandaian itu dari Allah Swt. Al-Gazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip Q.S. Al-Baqarah/2:269:


Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Al-Gazali mengakui adanya hierarki kecerdasan dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia. Namun Al-Gazali hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu:

1.Kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akan (al-‘aql)

2.Kecerdasan Spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan ruh±ni, yang ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.[13]

Ibn Arabi menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu yaitu pengetahuan kudus (‘ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (‘ilm al-asr±r) dan ilmu pengetahuan tentang gaib (‘ilm al-gaib).[14] Ketiga jenis ilmu pengetahuan ini tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual. Tentang kecerdasan intelektual, Ibn ‘Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan bahwa intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah yang mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.

Al-Gazali dan Ibn ‘Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksessibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Gazali, jika seseorang mampu mensinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada diri manusia, maka yang bersangkutan dapat “membaca” alam semesta. Kemampuan membaca alam semesta di sini merupakan anak tangga menuju pengetahuan (ma’rifah) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta menurut Al-Gazali merupaka “tulisan” Allah Swt.

Menurut Al-Gazali, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain dengan kemampuan membaca alam semesta tadi. Fenomena “kenabian” bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk “menerimanya”. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, maka “kenabian” menjadi fenomena alami. Keajaiban yang menyertai para Rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral dari “kenabian”, tetapi hanyalah alat untuk pelengkap alam mempercepat umat percaya dan meyakini risalah para Rasul itu.

[1]Lips, Hilary M., Sex & Gender an: Introduction, California, London, Toronto: Mayfield Publishing Company, 1993, h. 40.

[2]Lihat misalnya dalam Fakhr al-R±z³, al-Tafs³r al-Kab³r, Juz 8 Libanon: D±r Ihy±’ wa al-Tur±ts al-‘Arabi, 1990., h.265. Lihat pula Sa’³d Hawwa, al-Us±s f³ al-Tafs³r, Juz 7, Mesir: D±r al-Sal±m, 1999, h. 3628-3629.

[3]Lihat Sandy MacGregor, Piece of Mind, Mengaktifkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar untuk Mencapai Tujuan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, h.41.

[4]Kata emosi berasal dari akar kata movere (Latin), berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e” untuk memberi arti bergerak menjauh”. Secara literal emosi diartikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.(Lihat Daniel Goleman, Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional Mengapa Lebih Penting daripada IQ), Jakarta: PT. Gramedia Pusaka Utama, 2000, h. 7.) Emosi dalam arti ini dalam bahasa arab dapat disepadankan dengan kata qalb, berasal dari akar kata qalaba yang secara harfiah berarti “merubah, membalikkan, menjauhkan”.

[5]Goleman, op, cit., h. 15.
[6]Ibid, h. 411-422.
[7]Goleman, Op. cit., h. 412.
[8]S.H.Nasr, Ideals and Realities of Islam, London: George Allen & Unwil Ltd, 1975, h. 18-19.
[9]Danah Zohar & Ian Marshal, Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence, London: Bloomsbury, 2000, h.31-32.
[10]Kisah ini disadur dari Kitab Tafsir al-Thabari tentang kisa perjalanan spiritual seorang anak hamba yang bernama Ali AS.
[11]Al-Gazali dalam Muqaddimah Ihy± ‘Ul­m al-D³n.
[12]Al-Gazali, Al-Ris±lah al-Ladunniyyah, (Kumpulan Karangan pendek yang dibukukan), h, 29-30.
[13]Lihat Ali Issa Othman, Manusia Menurut Al-Gazali, Bandung: Pustaka Perpustakaan Salman ITB Bandung, 1981, h, 70-71.
[14]Ibn ‘Arabi, Futuh±t al-Makkiyyah, Juz IV, h. 394. Bandingkan dengan Fush­sh al-Hikam, h. 369.

Ketakjuban dan Keakraban Allah SWT

.
0 comments

Seperti telah dijelaskan pada uraian lalu, al-Asmâ al-Husnâ digolongkan ke dalam dua bagian besar, jalâliyah dan jamâliyah.

Jalâliyah adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keagungan dan kebesaran Allah SWT, seperti al-Akbar (Maha Besar), al-Azhîm (Maha Agung), al-Qawiy (Maha Kuat), dan al-Qadîr (Maha Kuasa).

Sedangkan jamâliyah adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keindahan dan kelembutan Allah, seperti al-Rahîm (Maha Penyayang), al-Ghafûr (Maha Pengampun), al-Lathîf (Maha Lembut), dan al-Rahmân (Maha Penyayang).

Aspek jalâliyah adalah sesuatu yang sangat bernilai luar biasa, sangat tinggi, tak terjangkau dan tak ada bandingannya dengan makhluknya. Akan tetapi, di samping itu Allah juga sekaligus indah, dekat, akrab, penuh cinta, dan sifat-sifat kelembutan lainnya yang terangkum dalam aspek jamâliyah.

Meskipun Allah Maha Penghukum, Maha Penyiksa, Maha Pendendam, Maha Keras, tetapi diri kita luput dari itu. Allah Maha Pencinta. Tidak ada kekerasan dalam cinta. Yang namanya cinta, lapar dan haus tidak terasa. Luka dan bisa bukan derita. Maka dari itu, di bulan suci Ramadlan orang bisa melaksanakan puasa dengan penuh rasa cinta kepada Allah Swt, sehingga puasa yang dilakukan secara berjama'ah itu dirasakan mudah. Dikatakan dalam Hadis:

"Berkah itu terletak pada jamaah".

Nama-nama keagungan lebih berhubungan dengan ketakterbandingan Allah dan hamba-Nya. Jika kita merasakan diri kita tak terbandingkan dengan Allah SWT, ini tidak salah. Akan tetapi, kalau kita menekankan aspek keserupaan, nama-nama jamâliyah Allah yang kita tonjolkan, itu juga tidak salah. Sebab, memang apa yang Allah ciptakan di dalam diri kita semuanya itu berasal dari Allah SWT.

Wajar kalau terjadi keserupaan-keserupaan. Allah Maha Pencinta, kita juga idealnya mencintai sesama. Allah Maha Pengasih, kita juga idealnya mengasihi antar sesama. Allah Maha lembut, kita juga harus lembut dengan sesama.

Mengidentifikasikan diri dengan sifat-sifat kelembutan Allah itu satu kenikmatan tersendiri. Semakin kita meniru sifat kelembutan Allah, semakin halus budi pekerti ini.

Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk merasakan kehalusan budi pekerti, cukup kita mencoba melakukan pendekatan diri kepada Allah, dengan cara belajar al-Asmâ al-Husnâ.

Contohilah sifat-sifat yang bisa kita contoh, terutama sifat jamâliyah-Nya. Akhlakul Karimah pasti akan terpelihara, tanpa harus melalui penataran-penataran, cukup dengan kedekatan diri kita kepada Allah SWT.

Nama-nama yang dipandang berbeda satu sama lain itu bukan berarti bahwa Allah kontradiktif, apalagi plin-plan. Dualitas itu ada dalam kaitannya dengan makhluk. Allah sendiri tidak merasakan dirinya memiliki sifat kontradiktif. Hanya kita yang memandang itu kontradiktif.

Bukankah diri kita juga kalau dilihat orang lain seringkali tidak konsisten? Di satu tempat, seseorang bisa tampil sebagai malaikat, di tempat lain tanpil sebagai iblis. Satu sisi penyelamat, tetapi sisi lain perusak. Namun demikian itu tetap menjadi bagian diri kita.

Kita keras pada waktu itu, karena keadaan menghendakinya. Tampil halus pada saat ini, karena keadaan menghendakinya. Dua-duanya bagian dari kita. Tidak ada pertentangan. Sifat-sifat Allah pun demikian. Dia adalah utuh pada dirinya sendiri. Itulah Ahâdiyat al-Wâhid.

Kita bisa mendekati Allah dari kedua aspek itu. Aspek jalâliyah Allah biasanya kita dekati melalui pendekatan rasional seperti dalam fiqh dan ilmu kalam (teologi). Hasilnya adalah kita membayangkan diri kita sangat jauh dengan Tuhan. Allah Maha Suci, kita sama sekali sangat kotor.

Waktu usia anak-anak, kita sering membayangkan Allah itu Maha Hebat dan segalanya sehingga tidak ada kemampuan bagi kita untuk mengidentifikasikan diri dengan Allah. Akibatnya, kita sangat takut kepada yang serba maha itu. Takwa pun diartikan takut. Sebagai efeknya, kita beribadah, shalat dan puasa pun dilakukan karena takut dan tunduk. Ada tersimpan beban-beban, terpaksa, dan keharusan.

Ini sangat berbeda kalau kita memakai pendekatan kalbu seperti dalam tasawuf. Allah seperti ada dalam diri kita (immanent). Tuhan tidak jauh bahkan ada dalam diri kita. Maka yang timbul bukan takut, tetapi cinta, karena Allah begitu dekat. Maka yang timbul adalah kepasrahan diri dan keterpesonaan.

Shalat dan puasa tidak lagi terasa sebagai tunduk kepada Tuhan, melainkan bagian dari kecintaan terhadap Tuhan. Nikmat sekali beribadah kepada Allah kalau kita menggunakan pendekatan tasawuf.

Kedua pendekatan ini jangan dipertentangkan. Tidak ada tasawuf tanpa syariat. Seorang hamba Tuhan tidak akan terpikir untuk mempertentangkannya satu sama lain. Akan tetapi, dia akan selalu mempersatukan. Prinsipnya preinciple of identity, bukan principle of negation.

Jangan berfikir kontradiktif, melainkan integratif. Orang yang kelebihan beban dalam hidupnya seringkali berfikir kontraproduktif. Di sinilah pentingnya kajian tasawuf, bisa melembutkan hati yang kasar, meluruskan pikiran yang bengkok, dan memutihkan jiwa yang kotor./

Wujud

.
0 comments

Bahasan kali ini adalah wujud dan pengetahuan (being and knowledge). Apa yang dimaksud dengan wujud (being)? Kata wujud berasal dari bahasa arab wajada. Yang kita bicarakan wujud di sini adalah wujud dalam pengertian yang sangat dasar.

Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat diketahui. Yang kita anggap wujud ini tidak bisa kita definisikan. Sedangkan kita yang wujud ini sebenarnya hanya akibat dari wujud yang sesungguhnya. Ini sulit kita pahami, karena vocabulary kita tidak bisa menjangkau aspek spiritual ini. Ini satu bukti betapa timpangnya perhatian kita terhadap persoalan ini. Bukan kesalahan kita untuk tidak dapat memahami persoalan ini, tetapi fasilitas yang ada sangat terbatas untuk menjelaskannya.

Ada dua hal yang perlu dijelaskan di sini. Pertama, penyamaan itu lebih dekat pada kesatuan. Kita meminjam bahasa Taoisme, karena inilah yang lebih mudah untuk dapat menjelaskannya. Penyamaan dan perbedaan adalah dua hal yang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.

Kedua, wujud dan hakikat. Kata wujud adalah bahasa Arab dan hakikat juga bahasa Arab, tetapi keduanya sudah menjadi bahasa Indonesia. Wujud adalah eksistensi sedangkan hakikat adalah realitas.

Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat didefiniskan. Yang sesungguhnya berwujud itu tidak dapat kelihatan. Wujud hanya dapat diketahui oleh entitas lain. Wujud hampir sama dengan penjelasan kita terhadap cahaya. Jika kita melihat cahaya, dan kita pastikan cahaya itu ada. Akan tetapi, yang terlihat di situ adalah benda-benda yang tersingkap oleh cahaya.

Jadi, wujud itu sesuatu yang tidak tampak pada dirinya sendiri, tetapi kehadirannya menyebabkan wujudnya objek-objek yang lain. Yang tampak itu objeknya, bukan cahayanya itu sendiri. Wujudnya tidak tampak, tetapi memungkinkan kita untuk melihat wujud-wujud selainnya. Jadi, wujud itu dapat kita ibaratkan dengan cahaya. Hakikat wujud yang sesungguhnya itu sendiri tidak terlihat. Yang terlihat ada ini bukan hakikat wujud, sebagai hakikat wujudnya adalah Allah SWT.

Dulu, ilmu semacam ini sangat dirahasiakan. Jika terus dirahasiakan, maka kapan generasi kita akan mengetahuinya. Oleh karenanya, kita jangan takut menjelaskan ilmu semacam ini. Sebab, kalau kita niat belajar kemudian salah maka akan diluruskan dan tetap mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT. Orang berijtihad kalau salah dapat satu pahala dan kalau benar dapat dua pahala.

Tuhan Mahatahu akan kelemahan kita. Oleh karena itu, kita selalu memperbaiki iman kita dengan kalimah thayyibah. Hanya orang yang merasa sangat dekat dengan Tuhan mau menanyakan pribadi Tuhan. Tidak mungkin menanyakan hal-hal pribadi kepada orang yang tidak dekat. Seperti halnya Nabi Ibrahim AS menanyakan hakikat Tuhan. Begitu juga dengan Nabi Musa AS. Oleh karena itu, awalilah kegiatan semacam ini dengan memohon bimbingan-Nya, ihdinâ al-shirât al-mustaqim.

Dikatakan bahwa wujud bagaikan cahaya, tetapi sesungguhnya tidak sama dengan cahaya. Ini hanya perumpamaan saja untuk mendekatkan kita kepada pemahaman ini. Semakin terang sebuah cahaya semakin sulit kita memahami dan menangkapnya. Wujud tidak bisa didefinisikan dan diketahui. Ia identik dengan essensi ilahi. Wujud merupakan jumlah keseluruhan dari segala sesautu yang diciptakan. Pulpen, komputer dan LCD, misalnya, apakah itu wujud atau benda? Semuanya itu adalah benda yang merupakan akibat dari perwujudan itu.

Saya menggunakan buku-buku karya Ibn 'Araby untuk menjelaskan mengenai konsep wujud ini. Dikatakan, bahwa "Allah sebagai yang satu dan yang banyak." Dari mana datangnya yang banyak? Datangnya yang banyak itu dari yang satu. Allah mengetahui segala sesuatu.

Pengatahuan Allah yang berbilang-bilang ini adalah sumber manifestasi makhluk. Banyak ilmu dan banyak nama, tetapi hanya satu Allah SWT. Objek yang dilihat oleh mata ini sangat banyak, berbilang dan berwarna, tetapi pada hakikatnya adalah manifestasi dari yang wujud. Allah Swt Maha Tunggal atau Maha Esa. Di mana Allah dan di mana makhluknya? Allah tidaklah tergantung kepada makhluk, dan yang tergantung adalah kita. Allah adalah adalah bagaikan Yan dan kita dan seluruh makhluknya adalah Yin. Meskipun ilmu Tuhan bermacam-macam tetapi kalau disedot kembali menjadi satu kepada sumbernya.

Jangan dipertentangkan bahwa Allah SWT Maha Esa sedangkan makhluknya berbilang. "comprehensifness" itu penyatuan antara satu dengan yang lain, sedangkan "all-comprehensifness" adalah keseluruhan dari penyatuan antara yang satu dengan yang lain.

Ketika melihat sifat maskulinitas Tuhan maka kita akan melukiskan bahwa Allah Maha berbeda dengan kita. Sedangkan kalau melihat sifat-sifat Allah yang feminin maka akan ada kesamaan dengan kita. Contoh lain, kriteria apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur bahwa sesuatu itu baik atau buruk? Kambing misalnya, jika ia (anaka kambing) berhubungan badan dengan induknya, apakah baik atau buruk, apa salah atau benar? Bagi penggembala kambing itu baik, karena sebentar lagi populasi kambingnya bertambah. Akan tetapi, kalau perbuatan itu dilakukan manusia, misalnya dilakukan seorang anak kepada ibunya, kita bisa memastikan perbuatan itu buruk dan tidak baik, karena ada norma khusus yang kita gunakan untuk menilainya.

Jadi, tidak semua yang berbeda itu salah atau tidak semua yang sama itu baik, demikian pula sebaliknya. Tergantung nilai dan norma apa yang kita gunakan untuk mengukurnya.

Satu sisi Allah SWT Mahategar, Mahakuat, tetapi pada sisi lain Mahalembut. Bagi Allah itu, tidak ada masalah. Oleh karena itu, kita perlu untuk mengategorikan nama-nama ketakterbandingan Tuhan, seperti al-Jalal (Maha Agung), al-Qahhar (Maha Pemaksa), al-Muntaqim (Maha Penyiksa), al-Jabbar (Maha Memaksa), al-Quddus (Maha Suci), dan lainnya.

Selain itu, kita perlu mengidentifikasi nama-nama keserupaan, seperti al-Jamal (Maha Indah), al-Lathif (Maha Lembut), al-Rahman (Maha Kasih Sayang), al-'Afwu (Maha Pemaaf), al-Ghafur (Maha Pengampun), al-Halim (Maha Penyantun), al-Sabr (Maha Sabar), dan lainnya. Identifikasi semacam ini memiliki implikasi dalam kepribadian kita sebagai hamba dari adanya kedua sisi sifat Tuhan ini.

Pendekatan kita kepada Allah ada dua model yang saling berkontribusi. Pertama, dengan pendekatan fiqh, substansi yang menonjol dalam menyembah Allah SWT adalah ketakterjangkauan Tuhan. Sebab yang dikedepankan dalam fiqh adalah aspek jalâliyah (keagungan/ketakterbandingan) Tuhan, bukan aspek jamâliyah-Nya (keindahan/keserupaan).

Di antara imbas pendekatan fiqh bagi kita adalah takut kepada Allah. Jika ketakutan yang dominan, maka kita harus taat dan tunduk. Ini tidak salah, karena memang fiqh seperti itu.

Pendekatan kedua yaitu pendekatan tasawwuf. Yang ditekankan dalam tasawuf adalah bukan objek Tuhan sebagai sesuatu yang tak terjangkau (transendent) melainkan sebagai sesuatu yang dekat (immanent). Dengan demikian, yang terjadi kemudian adalah kecintaan kita kepada Allah. Dengan kedekatan ini, efek selanjutnya adalah kecintaan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

Kedua pendekatan ini dapat kita lakukan, karena banyak lorong menuju Allah. Orang yang menonjolkan aspek jamâliyah Tuhan dapat melakukan ketaatan dengan ketulusan dan kepasrahan secara otomatis. Sedangkan orang yang lebih mengedepankan aspek jalâliyah Tuhan melakukan ketaatan dengan keterpaksaan dan keberatan.

Orang yang telah mampu menekankan aspek jamâliyah Tuhan akan menjadikan ibadah sebagai rutinitas yang otomatis, bagaikan matahari dan rembulan yang berjalan tepat waktu tanpa berkurang atau lebih.

Yang terbaik tentunya ialah kombinasi kedua model pendekatan itu dan model ini banyak dilakukan oleh para sufi. Lihat misalnya Al-Gazali di dalam kitab monumentalnya, Ihya 'Ulum al-Din. Ketika ia menjelaskan Rukun Islam, ia membahasnya ke dalam dua aspek, yaitu aspek fikih (eksoterik) dan aspek sufistik (esoterik).Shalat, puasa, zakat, dan haji memiliki nuansa fisik lahiriyah dan nuansa batin.

Ibn 'Atha'illah melukiskannya dengan baik: "Barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasih, barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindiq, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai hakekat". Wallahu A'lam.

Sunday, August 23, 2009

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Ditimpa Musibah

. Sunday, August 23, 2009
0 comments

• Apa hakekat musibah itu?
• Bagaimana menjadikan musibah sebagai surat cinta Tuhan?
• Bagaimana bersahabat dengan musibah?
• Bagaimana Al-Qur’an & hadis berbicara tentang musibah dan kekecewaan?

Musibah dapat dibedakan dengan azab dan bala. Musibah adalah ujian yang harus dilewati seorang hamba dan berfungsi sebagai proses pembelajaran agar kehidupan masa depan kita dapat dijalani dengan lebih baik.

Musibah tidak hanya menimpa bagi para pendosa tetapi juga orangorang yang saleh. Berbeda dengan azab, siksaan yang hanya diperuntukkan kepada mereka yang durhaka seperti azab yang pernah ditimpakan umat-umat terdahulu.

Azab tidak menimpa orang yang shaleh, seperti Banjir Nuh yang hanya menenggelamkan umat Nabi Nuh yang durhaka sedangkan dirinya bersama pengikut setianya selamat. Demikian pula umat Nabi Shaleh, ia bersama umat setianya selamat dari wabah epidemi yang menimpa kaumnya, juga kakeknya Nabi, Abdul Muthalib selamat dari keganasan thair ababil yang memporakporandakan pasukan Abraham.

Sedangkan bala, hampir sama dengan musibah, hanya skalanya lebih personal dan berhubungan dengan human error atau terkait erat dengan hukum sebab-akibat. Misalnya karena kecerobohan dan kelengahan maka seseorang mengalami kecelakaan.

Musibah di sini dapat dicontohkan dengan salah seorang anggota keluarga tercinta kita meninggal dunia, dokter memvonis kita menderita penyakit akut, atau mendapatkan fitnah keji dari orang lain, atau mengalami kekecewaan berat, misalnya gagal dipromosi, gugur dalam seleksi, dijauhi oleh teman, dan semacamnya.

Kondisi batin seperti ini pasti sangat menyakitkan dan membuat orang menjadi putus asa serta kehilangan optimisme dan harapan hidup. Bahkan kondisi seperti ini seringkali membuat seseorang berfikir atau melakukan solusi jalan pintas misalnya dengan nekat bunuh diri, menjauh dari keramaian, dan hanyut di dalam kesensaraan, atau menceburkan diri di dalam kehidupan gelap seperti mengkonsumsi obat penenang destruktif seperti narkoba dan sejenisnya.

Bagi orang yang beragama, cara terbaik yang harus dilakukan ialah kembali kepada Tuhan. Kita harus yakin bahwa sebesar apapun sebuah problem pasti itu masih tetap di ambang batas kemampuan daya dukung hamba-Nya.

Allah Swt, Tuhan Yang Maha Pengasih, tidak mungkin membebani sesuatu di luar batas kemampuan dan daya dukung hamba-Nya.

”Allah tidak akan membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.S. al-Baqarah/2:286).

Dalam perspektif tasawuf, musibah atau kekecewaan hidup adalah salah satu wujud ”surat cinta” Tuhan kepada hamba-Nya. Mungkin Tuhan merindukan hamba-Nya tetapi yang bersangkutan terkeco dan tersesat dengan kesenangan duniawinya.

Akhirnya Tuhan mengutus musibah atau kekecewaan kepadanya dan ternyata ia secara efektif kembali kepada Tuhannya.

Seseorang yang hidup di dalam kemewahanan atau dalam kondisi berkecukupan seringkali lebih sulit untuk melakukan pendakian (taraqqi) kepada Tuhannya, karena semua kebutuhannya terpenuhi.

Dalam keadaan seperti ini banyak orang yang lalai untuk berdoa. Ibadah yang dilakukan sebatas kewajiban, bukan betul-betul karena mencintai Tuhannya.

Tingkat kekhusyukan ibadahnya dengan sendirinya lemah. Kiat menyikapi musibah kita harus tawakkal, menyerahkan diri secara total dan sepenuhnya kepada Allah Swt. Kita harus yakin bahwa musibah dan kekecewaan ini adalah pilihan terbaik Tuhan untuk kita.

Allah SWT mencintai hamba-Nya dan ingin menyelamatkannya dari siksaan lebih pedih dan lebih lama. Nabi pernah bersabda:

” Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kedukaan, penyakit, kesulitan hidup,kesengsaraan, hingga semisal duri yang menusuk kakinya, melainkan itu semua berfungsi sebagai pencuci dosa masa lampau” (Hadis Muttafaq ’Alaih/sangat shahih).

Dalam kesempatan lain Rasulullah pernah bersabda: ”Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya
maka Ia menyegerakan siksaan-Nya (di dunia) dan jika Allah SWT menghendaki sebaliknya kepada hamba-Nya maka Ia menunda siksaan-Nya di hari kiyamat” (Hadis dari Anas, riwayat Turmudzi).

Musibah dan kekecewaan tidak mesti diratapi terlalu lama, bahkan sebaliknya kita perlu mengambil hikmah yang amat penting darinya. Seringkali kita harus bersyukur bahwa musibah memang membawa kekecewaan hidup tetapi pada saat bersamaan kita bisa merasakan adanya kedekatan khusus diri kita dengan Tuhan.

Bahkan kedekatan itu tidak pernah dirasakan sebelumnya. Seringkali justru rasa kedekatan itu lebih menonjol ketimbang rasa kekecewaan itu. Ini artinya musibah membawa nikmat dan betul-betul musibah terasa sebagai ”surat cinta” Tuhan kepada kekasih-Nya.

Semenjak musibah itu terjadi, semenjak itu terjadi perubahan total hubungan diri kita dengan Tuhan. Sebelumnya kita berjarak dengan Tuhan tetapi dengan musibah itu kita tidak lagi mau berpisah dan berjarak dengan Tuhan.

Musibah kita sikapi dengan tawakkal dan mengikhlaskan diri kita kepada-Nya. Semua itu sudah suratan takdir dan telah tercatat di buku blue print (lauh amhfudz).

Jalanilah kehidupan ini dengan datar dan lurus. Kekuatan tawakkal dan ikhlas akan meberikan power dan keajaiban di dalam diri kita.

Ini jaminan Tuhan: ”Jangan berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita” (Q.S. al- Taubah/9:40).

Kiat menjalani dan mempertahankan sikap tawakkal dalam diri kita, diajarkan oleh kalangan guru-guru tasawuf, dengan menghayati secara mendalam dua kalimat syahadat. ”Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rusul Allah”.

Dengan diawali kalimat negasi, menafikan segalanya, kalau perlu menafikan keberadaan wujud kita sendiri. Seolah-olah yang ada dan eksis di jangat ini hanyalah Dia, Allah SWT. Kita melenyapkan hakekat dan substansi diri kita lalu larut kepada suatu Wujud Yang Maha Abadi. Kita bagaikan mayat yang hanyut di sungai, ke mana pun sungai itu bermuara di situlah kita akan dibawa. Terimalah dirinya apapun adanya, karena semua orang membawa takdir dirinya masing-masing.

Ma’rifah seperti ini lebih mudah muncul ketika kita sedang sujud di atas hamparan sajadah di hadapan kebesaran Allah Swt. Lupakanlah musibah dan kekecewaan itu, hilangkanlah semuanya, kalau perlu lupakanlah keberadaan dirinya, seolah-olah yang ada hanyalah Dia Sendiri.

Tidak ada lagi sosok yang ditipa musibah, tidak ada juga sosok orang yang mendatangkan musibah, tidak ada lagi dendam dan tidak ada lagi yang sakit. Semuanya kembali dan menyatu dengan-Nya. Seolah musibah itu datang untuk menghapus memori gelap masa lampau kita.

Ikhlas yang sesungguhnya memberikan rasa optimisme ke dalam diri setiap orang. Orang yang menjalani keikhlasan penuh tidak akan pernah merasa sedih, sakit, lelah, dan kecewa, karena semua yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Karya dan pengabdian yang dilakukan bukan karena Allah SWT itulah yang sering menyedot energi batin seseorang. Yang bersangkutan sering merasa kecewa, lelah.

Bahkan sakit karena harapannya berbeda dengan respons yang diberikan orang lain terhadapnya. Jika semunya kita niatkan seikhlasnya dan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT maka hidup ini pasti tenang, tidak akan merasa kecewa, tidak akan bersedih, tidak pernah merasa jatuh, dan mungkin tidak akan pernah lagi kita merasa sakit.

 
IP
visitors browsers counter
Add to Technorati Favorites
Msn bot last visit
This Blog is proudly presented by Blog Ramadhan | Thanks to bacayuk.blogdetik.com