Showing posts with label Hikmah Puasa Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Puasa Ramadhan. Show all posts

Thursday, September 10, 2009

Muhasabah

. Thursday, September 10, 2009
0 comments

Biarpun 'lelatu', terasa panas juga. Cobalah kita dekatkan muka kita ke bakaran sampah, percikan lelatunya akan bikin kita tidak tahan. Paman Nabi SAW, Abu Thalib, menurut sebuah riwayat, adalah satu-satunya orang yang menerima siksa paling ringan di neraka dan, karena itu, cukup ditempatkan di 'pucuk'nya. Tetapi, lelatu api itu saja tentu membuatnya kepanasan. Peringatan agar kita tidak tersentuh api (neraka), sebenarnya, cukup banyak. Makan harta anak yatim dengan semena-mena, misalnya, bahkan disamakan dengan 'makan' api (Q. S. 4: 10), yang kadar panasnya, tentu saja, lebih dari sekadar diusap lelatunya. Menyembunyikan ilmu, bagi seorang cerdik cendekia, ancamannya 'pecut' api di hari kiamat (Hadis riwayat Abu Dawud dan Turmuzi). Bahkan, hanya dengan menyakiti tetangga, seseorang diancam api neraka (Hadis riwayat Muslim).

Manusia, adalah makhluk yang, oleh Alquran, diberi stempel kafur (pembangkang), zaluman jahula (goblok aniaya), dan halu'an (gelisah, pemberontak) yang cukup membuatnya kebal muka atau kurang peduli meski terhadap ancaman-ancaman. Pembangkangan atau mengulang-ulang kesalahan, seakan sudah menjadi sifat sehari-hari manusia. Karena itulah, agar kita tidak jatuh menjadi makhluk yang kafur, zaluman jahula, dan halu'an, sebaiknya kita sering bermuhasabah, mengkalkulasikan jumlah kekhilafan yang kita perbuat kemarin dan hari ini. Adakah sumber rezeki kita yang tidak halal? Sudah bersihkan ucapan-ucapan kita? Apakah kita sudah menunaikan zakat, serta peduli dengan nasib orang lain? Kepada tetangga, apakah kita cukup akur? Apakah kita juga memendam kemunafikan? Dan seterusnya.

Hasil muhasabah itu akan terlihat, setidaknya dari barometer seperti yang digunakan oleh Rasulullah SAW, ''Barangsiapa keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang keadaannya hari ini seperti hari kemarin, dia sudah tertipu. Dan barangsiapa keadaannya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, terkutuklah dia.'' (Hadis riwayat Hakim). Kita tentu tidak ingin menjadi orang yang tertipu, apalagi terkutuk. Kita tentunya ingin selamat, bahkan dari sentuhan lelatu pun.

Nafsu dan Amarah

.
0 comments

Suatu ketika Iskandar Agung berjalan-jalan untuk melihat kehidupan rakyatnya. Setiap ia lewat di kampung atau kota, seluruh penduduk membungkukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Namun di suatu kota, ada seorang laki-laki yang enggan menundukkan kepalanya ketika sang pemimpin agung itu lewat. Lelaki itu menarik perhatiannya, siapakah dia. Untuk itu, ia menyuruh pengawalnya menghadirkannya ke istana.

''Mengapa kau tidak memberi hormat kepadaku,'' tanya Iskandar Agung kepada lelaki tua yang telah hadir di hadapannya. ''Ya, mengapa aku harus menghormati Tuan, padahal Tuan salah seorang pelayanku,'' jawab pak Tua seenaknya. Iskandar Agung berang mendengar jawabannya. ''Apakah kau sudah gila, berani mengatakan itu di hadapanku?'' bentaknya.

Pak Tua bukannya takut dengan hardikan Iskandar Agung. Bahkan dengan suara lantang ia berkata, ''Meski Tuan mengaku sebagai pemimpin, pada hakekatnya Tuan hanyalah budak, budak yang telah dikuasai oleh hawa nafsu dan amarah. Sedang aku telah mengalahkan keduanya.''

Kisah di atas mengisyaratkan bahwa orang merdeka (bukan budak) adalah yang dapat mengendalikan keinginan hawa nafsu dan amarahnya. Dia lebih mulia dari orang yang kaya harta tetapi terjajah hawa nafsu dan amarahnya. Orang yang mampu mengendalikan nafsunya juga disebut oleh Nabi Muhammad sebagai orang bijak.

Kemerdekaan jiwa dapat dicapai ketika seorang mensucikan dirinya (tazkiyatun nafs) dari hawa nafsu yang selalu mendorongnya melakukan perbuatan menyimpang dari asas perikemanusiaan adil dan beradab. Jika seseorang atau suatu bangsa telah memiliki kesucian diri, boleh dikata mereka telah merdeka. Suatu bangsa yang memiliki kesucian diri dari kesalahan amal akan mampu mengatasi segala kekuatan yang mengancam kemerdekaan bangsanya.

Orang-orang bijak mengatakan, ''Merdekakanlah dirimu dari segala jeratan dunia yang bukan hakmu. Engkau tak akan mampu menguasai sesuatu yang bukan hakmu.'' Allah SWT berfirman, ''Sungguh amat beruntung orang yang mampu memerdekakan dirinya.'' (Q. S. 87: 14).

Wednesday, September 09, 2009

I'tikaf

. Wednesday, September 09, 2009
0 comments

Adalah Rasulullah SAW apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, selalu menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari Siti 'Aisyah).

Hadis dari Siti 'Aisyah tersebut memberi isyarat tentang adanya sunnah Rasul yang khusus dalam menghadapi sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Pada hari-hari itu, Rasul biasa menghidupkan malam dan mengisinya dengan berbagai macam kegiatan ibadah yang menunjukkan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Rasul juga mengajak istri dan keluarganya serta para sahabat untuk melakukan kegiatan yang sama. Inilah yang disebut dengan kegiatan I'tikaf Asyrul - Awahir.

I'tikaf, seperti dijelaskan didalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 187, adalah berdiam diri di masjid melakukan kegiatan ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Selain itu, dalam beri'tikaf, kita diharapkan melakukan kegiatan muhasabah (introspeksi diri) terhadap hal-hal yang lalu, melihat kekurangan dan kelemahan diri, untuk kemudian berusaha memperbaiki diri, meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Dalam kegiatan i'tikaf ini diharapkan ada dialog internal dengan diri sendiri secara intensif, ada proses pengenalan diri dan penyadaran diri secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya, masihkah kita secara konsisten menjadi hamba Allah SWT, atau telah bergeser menjadi hamba perut, hamba seksual, hamba materi, hamba kedudukan atau jabatan?

Untuk sampai pada proses tersebut, dalam i'tikaf kita ''dipandu'' dengan kegiatan-kegiatan taqarrub seperti berdoa', membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, membaca dan mentadabburi ayat-ayat Alquran. Kita pun dianjurkan untuk membawa dan mempelajari Sunnah Rasul-Sirah Nabawiyyah, salat sunnah seperti tahajjud, taubat, hajat, ataupun mendengarkan ceramah dan nasihat agama. Ada doa yang dianjurkan dibaca ketika kita melakukan i'tikaf seperti dikemukakan dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Ahmad, Ibn Majah dan Nasai dari Siti 'Aisyah, bahwa Rasulullah menganjurkan membaca doa Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu anni (Ya Allah, sesungguhnya engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun, ampunilah kami dari segala dosa dan kesalahan).

Dalam beri'tikaf kita boleh melakukan kegiatan-kegiatan tambahan yang memperkuat kesadaran diri kita kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia, misalnya berdiskusi tentang problematika ummat, membicarakan konsep-konsep Islam tentang masalah-masalah kehidupan atau hal-hal yang situasional dan kondisional yang berhubungan dengan jamaah masjid di lingkungan kita. Pendeknya memperkuat komitmen keimanan dan ketakwaan yang terjabar dalam semua aktifitas yang akan kita lakukan. Dengan demikian, maka tujuan i'tikaf adalah sama dengan tujuan ibadah puasa itu sendiri, yaitu mudah-mudahan menjadi orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah ayat 183). Wallahua'lam bisshawab.

Tuesday, September 08, 2009

Hikmah Dibalik Musibah

. Tuesday, September 08, 2009
0 comments

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim di antara kamu. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah amat keras azab-Nya. (QS Al Anfal: 25). Bencana alam yang sering menimpa kita ada dua macam: bencana yang murni bersifat alami dan bencana yang dikarenakan perbuatan manusia. Gunung api meletus, gempa tektonik, badai dan gelombang, adalah contoh bencana alam yang murni bersifat alami. Sedangkan tanah longsor pada gunung yang hutannya digunduli manusia, kebakaran hutan karena manusia mencari cara gampang membuka lahan perkebunan, adalah contoh bencana yang dikarenakan perbuatan manusia.

Jenis bencana yang pertama seharusnya menyadarkan manusia akan Kemahabesaran Allah. Ketika sebuah gunung meletus yang menyebabkan gempa vulkanik, atau dua lempeng kulit bumi bertumbukan yang menyebabkan gempa tektonik, seharusnya semakin menyadarkan manusia tentang adanya Allah Yang Maha Kuasa. Ada hukum-hukum alam yang telah ditetapkan-Nya sehingga alam bersifat demikian itu. Manusia tidak dapat menciptakan hukum seperti itu. Manusia harus sadar, ada Tuhan tempat mereka bergantung. Karena itu mereka harus tunduk-patuh secara ikhlas terhadap petunjuk dan hukum-Nya.

Di balik bencana alam itu tentu ada hikmahnya bagi manusia. Misalnya, dengan melakukan penyelidikan empiris, sedikit demi sedikit manusia dapat memahami hukum-hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Dengan demikian, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Lalu dengan iptek itu, mereka dapat melakukan berbagai upaya untuk memperkecil kemungkinan risiko yang dialaminya akibat bencana alam itu, misalnya dengan melakukan evakuasi setelah memprediksi akan terjadi gempa vulkanik.

Berbeda dengan itu, bencana alam yang disebabkan ulah manusia bisa terjadi, antara lain, karena kesadaran hukum dan moral mereka yang rendah atau oleh keterbatasan pengetahuan manusia itu sendiri. Keterbatasan atau kelemahan pengetahuan manusia dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengelola alam yang bisa berujung pada bencana alam. Sementara kelemahan kesadaran hukum dan moral juga bisa mengakibatkan manusia mengelola alam secara salah sehingga menimbulkan bencana. Contohnya, bencana asap dari kebakaran hutan yang kita alami sekarang ini.

Sebagian besar kebakaran hutan tersebut bukan diakibatkan oleh kelemahan pengetahuan, tapi kelemahan kesadaran hukum dan moral. Ada di antara pengusaha hutan yang demi kepentingannya sendiri melanggar aturan pengelolaan hutan (kelemahan kesadaran hukum) dengan cara membakar, dan tidak mau tahu banyak orang lain menderita karenanya (kelemahan kesadaran moral).

Terjemahan surat Al Anfal ayat 29 di atas seharusnya kita jadikan pegangan bersama untuk mawas diri terhadap bencana yang ditimbulkan oleh perbuatan zalim kita sendiri. Sekaligus, atas dasar itu, kita harus menyadari akan tanggung jawab kita melakukan kontrol terhadap perbuatan yang bisa mendatangkan bencana, sebab kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa pelakunya. Orang-orang tak berdosa juga ikut mengalaminya.

Lailatul Qadar

.
0 comments

Lailatul qadar, sering juga disebut Malam Kemuliaan. Inilah malam turunnya takdir Allah yang baik bagi hamba-Nya. Ibadah di malam mulia ini lebih baik dari beribadah seribu bulan (Q. S. 87: 2). Pada malam lailatul qadar para malaikat dan Jibril berdesakan turun ke bumi membawa segala urusan yang baik. Rizki, ilmu pengetahuan, kebahagiaan, keberkahan, dan sebagainya diberikan kepada hamba-hambaNya yang beribadah di malam yang mulia ini (Q. S. 87: 3 dan 89: 16). ''Di saat lailatul qadar,'' sabda Nabi SAW, ''Jibril dan malaikat yang lainnya turun ke bumi, seraya memohon ampunan dan keselamatan bagi setiap hamba Allah yang beribadah di malam lailatul qadar.'' Karena kemuliaannya, banyak orang Islam yang lalu menantikan lailatul qadar, dengan berbagai kegiatan ibadah. Keadaan ini akan bertambah khusuk bila tiba sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Mereka bersandar pada hadis Nabi riwayat Aisyah ra: ''Jika telah datang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW lebih mempererat ibadahnya, dan beliau membangunkan seluruh keluarganya.''

Hadis di atas memotivasi umat Islam agar bertambah giat beribadah. Terlihat, di berbagai masjid, umat Islam khusuk beribadah, ada yang tadarus Alquran, salat tarawih, salat malam, mengkaji ilmu-ilmu keislaman serta berbagai kegiatan ibadah lainnya. Ini karena Rasulullah SAW telah memberi gambaran bahwa untuk mendapatkan lailatul qadar harus beribadah secara sungguh-sungguh di bulan yang penuh berkah ini. Minimal ada dua syarat untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Pertama, fal yastajibu li, hendaknya memenuhi segala ketentuan-ketentuan Allah dan menjauhi berbagai larangan-Nya secara konsekuen dan konsisten. Kedua, fal yu'minu bi, memantapkan keyakinan kepada Allah atas segala janji-janji-Nya.

Dua kriteria di atas merupakan syarat akan dipenuhinya segala permohonan. Firman-Nya, ''Aku akan mengambulkan permohonan orang-orang yang berdoa, bila mereka memohon kepadaKU.'' (Q. S. 2: 186). Lalu, apa hikmah dari malam lailatul qadar? Orang yang mendapat lailatul qadar, dalam hidupnya akan senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk ke jalan lurus, al-shirath al-mustaqim. Artinya, ia akan mendapat aspirasi dan inspirasi untuk menatap hidup masa mendatang yang lebih baik. Kita amat kerap berikrar: Tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka (Q. S. 1: 5-7). Petunjuk jalan yang lurus itu akan tersingkap di saat tiba lailatul qadar. Semoga.

Buka Puasa

.
0 comments

18 hari puasa Ramadhan telah kita jalani, Insya Allah, bersama rahmatNya. Di antara rahmat itu tampak dalam suasana menjelang petang: berkumpulnya keluarga di rumah, beberapa jemaah di masjid, dan teman-teman sekerja di kantor atau di kantin. Dengan hati penuh suka, mereka menanti saat berbuka. ''Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa,'' kata Nabi SAW, ''Ketika berbuka dan ketika menjumpai TuhanNya.'' Berbuka, selain disunatkan, juga dianjurkan untuk disegerakan, dimulai dengan makanan yang manis serta air, dan dilaksanakan sebelum salat Maghrib sebagaimana praktik Nabi SAW.

'Berbuka' berasal kata dari 'buka', lawan kata tutup. Jadi, maksudnya, membuka sesuatu yang tertutup. Dalam ibadah puasa, yang tertutup (menurut agama, imsak dalam bahasa Arab berarti menahan diri) itu adalah kesempatan untuk makan, minum, dan semua yang membatalkan puasa sepanjang siang hari, dan ketika Magrib tiba, kesempatan yang tertutup itu beleh dibuka dengan 'berbuka'. Dalam bahasa Arab 'berbuka' disebut afthara, yang boleh dialihkan menjadi kata fithrah (fitrah, instink). Di sini dapat ditangkap makna bahwa makan dan minum adalah watak instinktif manusia.

Hanya saja, pada saat berbuka, kadangkala kita lupa disiplinnya. Sebagai misal, kita makan-minum melampaui batas karena ingin mencicipi semua hidangan yang ada, sehingga mengalami kekenyangan. Seakan kita ingin balas dendam terhadap rasa harus dan lapar sepanjang hari. Kekenyangan adalah sesuatu yang dibenci Tuhan. Nabi SAW menyatakan, bahwa bejana yang paling dibenci Allah adalah perut yang kekenyangan. Beliau juga bersabda, ''Sesungguhnya setan itu merasuk dalam diri manusia melalui aliran darah. Karena itu persempitlah ia dengan lapar dan haus.'' Karena itu beliau mengajarkan bahwa sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sisanya untuk udara (nafas) -- prinsip yang juga diakui oleh dunia kedokteran.

Selain itu, kekenyangan juga mempermudah datangnya penyakit, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, bahwa perut merupakan sumber penyakit. Dan penyakit akan mengganggu ibadah puasa. Ia juga meninggikan syahwat seksual. Jika syahwat itu dapat ditahan, misalnya, bisa saja ia pindah ke mata (zina mata); kalau tidak, ia pindah ke dalam pikiran (penuh dengan hal-hal yang jorok). Akibatnya, pikiran jadi keruh. Karena itu, Nabi bersabda, ''Makanlah waktu lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.'' Sebuah ajaran yang seharus kita ingat ketika berbuka puasa.

Saturday, September 05, 2009

Mengendalikan Hawa Nafsu dan Amarah

. Saturday, September 05, 2009
0 comments

Suatu ketika Iskandar Agung berjalan-jalan untuk melihat kehidupan rakyatnya. Setiap ia lewat di kampung atau kota, seluruh penduduk membungkukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Namun di suatu kota, ada seorang laki-laki yang enggan menundukkan kepalanya ketika sang pemimpin agung itu lewat. Lelaki itu menarik perhatiannya, siapakah dia. Untuk itu, ia menyuruh pengawalnya menghadirkannya ke istana.

''Mengapa kau tidak memberi hormat kepadaku,'' tanya Iskandar Agung kepada lelaki tua yang telah hadir di hadapannya. ''Ya, mengapa aku harus menghormati Tuan, padahal Tuan salah seorang pelayanku,'' jawab pak Tua seenaknya. Iskandar Agung berang mendengar jawabannya. ''Apakah kau sudah gila, berani mengatakan itu di hadapanku?'' bentaknya.

Pak Tua bukannya takut dengan hardikan Iskandar Agung. Bahkan dengan suara lantang ia berkata, ''Meski Tuan mengaku sebagai pemimpin, pada hakekatnya Tuan hanyalah budak, budak yang telah dikuasai oleh hawa nafsu dan amarah. Sedang aku telah mengalahkan keduanya.''

Kisah di atas mengisyaratkan bahwa orang merdeka (bukan budak) adalah yang dapat mengendalikan keinginan hawa nafsu dan amarahnya. Dia lebih mulia dari orang yang kaya harta tetapi terjajah hawa nafsu dan amarahnya. Orang yang mampu mengendalikan nafsunya juga disebut oleh Nabi Muhammad sebagai orang bijak.

Kemerdekaan jiwa dapat dicapai ketika seorang mensucikan dirinya (tazkiyatun nafs) dari hawa nafsu yang selalu mendorongnya melakukan perbuatan menyimpang dari asas perikemanusiaan adil dan beradab. Jika seseorang atau suatu bangsa telah memiliki kesucian diri, boleh dikata mereka telah merdeka. Suatu bangsa yang memiliki kesucian diri dari kesalahan amal akan mampu mengatasi segala kekuatan yang mengancam kemerdekaan bangsanya.

Orang-orang bijak mengatakan, ''Merdekakanlah dirimu dari segala jeratan dunia yang bukan hakmu. Engkau tak akan mampu menguasai sesuatu yang bukan hakmu.'' Allah SWT berfirman, ''Sungguh amat beruntung orang yang mampu memerdekakan dirinya.'' (Q. S. 87: 14).

Hikmah Bencana Alam

.
0 comments

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim di antara kamu. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah amat keras azab-Nya. (QS Al Anfal: 25). Bencana alam yang sering menimpa kita ada dua macam: bencana yang murni bersifat alami dan bencana yang dikarenakan perbuatan manusia. Gunung api meletus, gempa tektonik, badai dan gelombang, adalah contoh bencana alam yang murni bersifat alami. Sedangkan tanah longsor pada gunung yang hutannya digunduli manusia, kebakaran hutan karena manusia mencari cara gampang membuka lahan perkebunan, adalah contoh bencana yang dikarenakan perbuatan manusia.

Jenis bencana yang pertama seharusnya menyadarkan manusia akan Kemahabesaran Allah. Ketika sebuah gunung meletus yang menyebabkan gempa vulkanik, atau dua lempeng kulit bumi bertumbukan yang menyebabkan gempa tektonik, seharusnya semakin menyadarkan manusia tentang adanya Allah Yang Maha Kuasa. Ada hukum-hukum alam yang telah ditetapkan-Nya sehingga alam bersifat demikian itu. Manusia tidak dapat menciptakan hukum seperti itu. Manusia harus sadar, ada Tuhan tempat mereka bergantung. Karena itu mereka harus tunduk-patuh secara ikhlas terhadap petunjuk dan hukum-Nya.

Di balik bencana alam itu tentu ada hikmahnya bagi manusia. Misalnya, dengan melakukan penyelidikan empiris, sedikit demi sedikit manusia dapat memahami hukum-hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Dengan demikian, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Lalu dengan iptek itu, mereka dapat melakukan berbagai upaya untuk memperkecil kemungkinan risiko yang dialaminya akibat bencana alam itu, misalnya dengan melakukan evakuasi setelah memprediksi akan terjadi gempa vulkanik.

Berbeda dengan itu, bencana alam yang disebabkan ulah manusia bisa terjadi, antara lain, karena kesadaran hukum dan moral mereka yang rendah atau oleh keterbatasan pengetahuan manusia itu sendiri. Keterbatasan atau kelemahan pengetahuan manusia dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengelola alam yang bisa berujung pada bencana alam. Sementara kelemahan kesadaran hukum dan moral juga bisa mengakibatkan manusia mengelola alam secara salah sehingga menimbulkan bencana. Contohnya, bencana asap dari kebakaran hutan yang kita alami sekarang ini.

Sebagian besar kebakaran hutan tersebut bukan diakibatkan oleh kelemahan pengetahuan, tapi kelemahan kesadaran hukum dan moral. Ada di antara pengusaha hutan yang demi kepentingannya sendiri melanggar aturan pengelolaan hutan (kelemahan kesadaran hukum) dengan cara membakar, dan tidak mau tahu banyak orang lain menderita karenanya (kelemahan kesadaran moral).

Terjemahan surat Al Anfal ayat 29 di atas seharusnya kita jadikan pegangan bersama untuk mawas diri terhadap bencana yang ditimbulkan oleh perbuatan zalim kita sendiri. Sekaligus, atas dasar itu, kita harus menyadari akan tanggung jawab kita melakukan kontrol terhadap perbuatan yang bisa mendatangkan bencana, sebab kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa pelakunya. Orang-orang tak berdosa juga ikut mengalaminya.

[ Baca Selengkapnya ]...

Wednesday, September 02, 2009

Hikmah di balik Musibah Gempa Bumi Di Jawa Barat

. Wednesday, September 02, 2009
0 comments

Innalillahi Wainna ilaihi Rojiun ... kami segenap kru Blog Ramadhan mengucapkan turut berduka cita atas musibah Gempa Bumi yang terjadi di sebahagian besar Kota di Jawa Barat. Gempa Bumi yang terjadi pada hari ini Rabu tanggal 02 September 2009 banyak menyisakan kesedihan dan ketakutan khususnya daerah-daerah yang dilanda gempa sangat parah. Seperti daerah Bandung Selatan yang sangat parah terkena Gempa tersebut, selain itu juga Cianjur dilanda Gempa yang tak kalah dahsyat, bahkan di Garut beberapa perkantoran dan rumah warga hancur luluh akibat Gempa yang terjadi hari ini. Seperti di wartakan oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisikan, Pusat Gempa berada di Tasikmalaya. Kita sangat tercengang dengan kejadian ini. Sungguh diluar dugaan kita, di Bulan Ramadhan yang suci ini, terjadi bencana yang cukup membuat kita "terbangun" terperanjat dan terkesima. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang penuh dengan hikmah, barokah dan magfirah. Tapi semua ini merupakan kehendak dari Allah SWT. DIA lah yang menguasai seluruh bumi ini, termasuk jiwa-jiwa kita. Yang bisa kita lakukan adalah berdo'a dan berusaha terus melaksanakan ibadah sebagai manusia dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan tuntunan dan perintah Allah SWT melalui para Rasul-Rasul-Nya.
Sejenak kita menghela nafas, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melindungi kita dari marabahaya dan bencana yang tidak kita inginkan, mudah-mudahan Allah SWT selalu membimbing kita untuk selalu istiqomah dalam beribadah dan mengabdi kepada-Nya.
Saudaraku, seperti judul postingan diatas ini, ya sudah semestinya kita merasa berduka, sedih bahkan takut yang amat dalam atas terjadinya bencana gempa ini. Bencana Gempa yang siapapun tidak akan mengira terjadi di Bulan Suci ini, Bulan Ramadhan. Tapi sekali lagi Saudaraku, semuanya atas ijin dan kehendak Allah SWT. yang perlu kita lakukan adalah lebih mendekatkan diri kepadaNya melalui jalan ibadah.
Marilah kita tundukkan kepala sejenak, merenung dan lebih arif lagi melihat kejadian ini. Mungkin menurut para ahli Geologi, Gempa merupakan akibat dari pergerakan lempengan yang terjadi di dalam perut bumi, sehingga menimbulkan gesekkan dan pergeseran dengan lempengan lain. tapi menurut kacamata dari aqidah kita ini, sudah sepantasnya kita mulai "ngeh" dan mawas diri. Jangan-jangan Bencana Gempa ini selain merupakan bencana, juga merupakan teguran dan peringatan dari Allah SWT. mungkin kita selama ini lalai dalam menjalankan kewajiban kita sebagai HambaNya, ataupun mungkin di Bulan Ramadhan ini kita "terlalu" menganggap enteng setiap keutamaan di dalamnya. Wallahu A'lam... tapi dibalik semua itu, seharusnya setiap musibah dan bencana yang datang ini lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT. Apa yang kita rasakan ketika gempa ini terjadi, serentak kita berhamburan keluar, yang di dalam rumah berlarian keluar rumah, yang sedang bekerja dikantor, berhamburan keluar, untuk berlindung dari akibat yang lebih parah lagi dari gempa ini. Tapi sadarkah kita, ketika gempa mengguncang, spontan mulut kita memuji kebesaran Allah SWT. Ucapakan Takbir, Istighfar bahkan suara azan pun tanpa dikomado langsung berkumandang dan bergemuruh, disertai isak tangis dari kaum ibu dan rasa ketakutan dari kita semua. Ya, disinilah kita harus "sadar diri" sebagai manusia, ada apa gerangan dengan bencana gempa ini? sedang marahkah Allah SWT pada kita, atau kita mungking sedang di "tegur" oleh Allah SWT ? jawabannya tentu ada dalam diri kita masing-masing. Tapi, menurut saya, kalau ini merupakan "teguran" tentunya ini adalah teguran yang sangat keras dan nyata. ini adalah "teguran" yang bukan main-main. Teguran yang seharusnya membuat kita "bertobat" dan kembali berusaha untuk mendekatkan diri dengan-Nya dengan jalan ibadah. Sudah saatnya kita sadar sebagai manusia, bahwa hidup di dunia ini tidak kekal, semua yang kita cintai di dunia ini akan dicerai beraikan oleh Sang Maut. Tidak ada yang akan kita bawa, selain amal sholeh. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kita berada di dalam Bulan Yang Penuh Dengan Keutamaan, Bulan Ramadhan. tinggalkanlah sejenak kehidupan duniawi yang hanya akan membuat kita terlena dan lalai dalam melaksanakan ibadah kita. Seharusnya 11 Bulan kita gunakan untuk mencari nafkah, 1 Bulan ini sepatutnyalah kita isi dengan ibadah. Mohon maaf, bulan maksud untuk menggurui, semua ini saya tulis hanya untuk mengingatkan saya pribadi pada khususnya, umumnya bagi Saudaraku seiman yang selalu beristiqomah dalan kebaikan.
Gempa dan bencana lainnya yang terjadi bisa merupakan bencana, ujian dan teguran, tinggal bagaimana kita saja dalam menyikapinya. kita tidak akan berdaya tanpa ijin Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita rapatkan barisan di dalam masjid, makmur kan mesjid di bulan suci ini, mari kita singsingkan lengan baju dan hamparkan sajadah. Stop,! semua urusan duniawi yang hanya membuat kita berkeluh kesah. Bencana, Ujian dan Teguran ini merupakan tonggak kita untuk "hijrah" menjadi manusia yang paripurna, menjadi manusia-manusia yang terpilih untuk membawa kemajuan di dunia ini dengan cara yang amat sangat baik dalam bimbingan Allah SWT. Sedih Takut dan Gelisah, Insya Allah akan terobati jika kita lebih jauh dalam mengenal Allah SWT.
Terakhir, marilah kita berdoa, semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah Gempa Bumi di Jawa Barat dan sebahagian Indonesia lainnya, diberikan ketabahan, kesaraban, bagi yang meninggal dunia semoga Allah SWT mengampuni dosanya dan menerima segala amal ibadahnya, dan Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua dalam setiap gerak langkah kehidupan ini menuju ridhoNya. Aamiin...!
Wallahu A'lam ...


[ Baca Selengkapnya ]...

puasa

.
0 comments

WORDPRESS.COM/ILUSTRASISudah banyak pakar membahas hikmah dan filosofi ibadah puasa. Ada yang mengaitkan puasa dengan teori-teori kedokteran, seperti dilakukan Muhammad Farid Wajdi, salah seorang murid Shekh Muhammad Abduh. Ada pula yang mengaitkannya dengan kepedulian sosial dan rasa kesetiakawanan, serta tidak sedikit pula yang mengaitkan puasa dengan pendidikan kepribadian. Berbagai hikmah yang dikemukan para pakar di atas, tentu saja memiliki alasan-alasan dan logikanya sendiri.




Dalam Alquran, menurut penyelidikan Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfadz Alquran , kata puasa ( al-shaum ) terulang sebanyak 14 kali dalam berbagai bentuknya. Khusus mengenai puasa Ramadhan, dapat dilihat keterangannya secara beruntun dalam surah al-Baqarah ayat 183 s/d 167. Berdasarkan penyelidikannya yang mendalam terhadap ayat-ayat mengenai puasa di atas, Abdul Halim Mahmud, mantan Rektor al-Azhar, dalam bukunya Asrar al-'Ibadah (Rahasia Ibadah), mengemukakan tiga hikmah penting ibadah puasa.



Pertama, puasa diwajibkan sebagai sarana mempersiapkan individu Muslim menjadi orang takwa (Q. S. 2: 183). Karena tujuan utama puasa adalah takwa, maka menurut Abdul Halim Mahmud, setiap orang yang berpuasa harus mampu mengorganisir seluruh organ tubuhnya dan mengatur semua aktivitasnya ke arah tujuan yang hendak dicapai itu (takwa).



Kedua, puasa diwajibkan sebagai syukur nikmat. Allah SWT memerintahkan puasa setelah Ia menerangkan bahwa Ramadhan yang mulia itu adalah bulan yang di dalamnya petunjuk Allah yang amat sempurna diturunkan, yaitu Alquran (Q. S. 2: 185). Karena itu, turunnya wahyu itu patut disambut dan ''dirayakan''. Namun, perayaan ini haruslah dengan kegiatan yang sesuai. Dalam kaitan ini, penyambutan dan ''perayaan'' itu hanya patut dilakukan dengan mempersiapkan diri untuk bisa menerima petunjuk itu dengan cara yang paling baik, yaitu puasa.



Ketiga, puasa membuat pelakunya dekat dengan Tuhan dan semua permohonan dan doanya didengar dan dikabulkan. Inilah makna firman Allah: ''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku'' (Q.S. 2.186).



Menyimak beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, nyatalah bahwa puasa merupakan sesuatu yang semestinya kita lakukan. Ia bukan semata kewajiban, melainkan suatu kebutuhan. Untuk itu, setiap muslim harus menyambut gembira datangnya Ramadhan ini dan melaksanakan ibadah puasa dengan penuh suka cita. Dengan begitu, setiap kita mempunyai alasan moral untuk mendapat pengampunan Tuhan dan pembebasan dari siksa-Nya.

Friday, August 28, 2009

Puasa

. Friday, August 28, 2009
0 comments

Sudah banyak pakar membahas hikmah dan filosofi ibadah puasa. Ada yang mengaitkan puasa dengan teori-teori kedokteran, seperti dilakukan Muhammad Farid Wajdi, salah seorang murid Shekh Muhammad Abduh. Ada pula yang mengaitkannya dengan kepedulian sosial dan rasa kesetiakawanan, serta tidak sedikit pula yang mengaitkan puasa dengan pendidikan kepribadian. Berbagai hikmah yang dikemukan para pakar di atas, tentu saja memiliki alasan-alasan dan logikanya sendiri.

Dalam Alquran, menurut penyelidikan Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfadz Alquran , kata puasa ( al-shaum ) terulang sebanyak 14 kali dalam berbagai bentuknya. Khusus mengenai puasa Ramadhan, dapat dilihat keterangannya secara beruntun dalam surah al-Baqarah ayat 183 s/d 167. Berdasarkan penyelidikannya yang mendalam terhadap ayat-ayat mengenai puasa di atas, Abdul Halim Mahmud, mantan Rektor al-Azhar, dalam bukunya Asrar al-'Ibadah (Rahasia Ibadah), mengemukakan tiga hikmah penting ibadah puasa.

Pertama, puasa diwajibkan sebagai sarana mempersiapkan individu Muslim menjadi orang takwa (Q. S. 2: 183). Karena tujuan utama puasa adalah takwa, maka menurut Abdul Halim Mahmud, setiap orang yang berpuasa harus mampu mengorganisir seluruh organ tubuhnya dan mengatur semua aktivitasnya ke arah tujuan yang hendak dicapai itu (takwa).

Kedua, puasa diwajibkan sebagai syukur nikmat. Allah SWT memerintahkan puasa setelah Ia menerangkan bahwa Ramadhan yang mulia itu adalah bulan yang di dalamnya petunjuk Allah yang amat sempurna diturunkan, yaitu Alquran (Q. S. 2: 185). Karena itu, turunnya wahyu itu patut disambut dan ''dirayakan''. Namun, perayaan ini haruslah dengan kegiatan yang sesuai. Dalam kaitan ini, penyambutan dan ''perayaan'' itu hanya patut dilakukan dengan mempersiapkan diri untuk bisa menerima petunjuk itu dengan cara yang paling baik, yaitu puasa.

Ketiga, puasa membuat pelakunya dekat dengan Tuhan dan semua permohonan dan doanya didengar dan dikabulkan. Inilah makna firman Allah: ''Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku'' (Q.S. 2.186).

Menyimak beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, nyatalah bahwa puasa merupakan sesuatu yang semestinya kita lakukan. Ia bukan semata kewajiban, melainkan suatu kebutuhan. Untuk itu, setiap muslim harus menyambut gembira datangnya Ramadhan ini dan melaksanakan ibadah puasa dengan penuh suka cita. Dengan begitu, setiap kita mempunyai alasan moral untuk mendapat pengampunan Tuhan dan pembebasan dari siksa-Nya.

Thursday, August 27, 2009

Nurani

. Thursday, August 27, 2009
0 comments

Suatu saat sejumlah sahabat berkumpul di hadapan Rasulullah saw dalam sebuah majelis. Di antara mereka ada seorang laki-laki bernama Wabishah bin Ma'bad, yang ingin sekali mengajukan pertanyaan perihal kebajikan dan dosa. Menanggapi pertanyaan itu Rasulullah saw meletakkan tangan di dada orang itu dan bersabda: ''Hai Wabishah, bertanyalah kepada dirimu sendiri. Kebajikan adalah apa yang dapat membuat hati dan jiwa tenang, sedangkan dosa adalah apa yang bergejolak di dalam hati dan ketidakpastian di dalam dada, walaupun orang telah memberimu fatwa (nasihat, pertimbangan),'' (Hadis Riwayat Ahmad).

Hadis Nabi saw yang sangat ringkas dan tegas itu jangan diartikan bahwa kita tak perlu belajar fikih untuk mengetahui status hukum perbuatan kita. Tapi, hadis itu mengajarkan bahwa sesungguhnya hati nurani manusia tidak berbohong dan tidak dapat dibohongi. Walaupun orang dapat mengemukakan berbagai argumentasi dengan pertimbangan tertentu, hati nuraninya tetap ''independen'' dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang batil. Orang bisa saja berkelit dengan seribu satu macam logika untuk menutupi suatu kecurangan, namun hati nuraninya tak mungkin sepakat dengan ketidakjujuran yang dilakukan itu. Hati nurani senantiasa berpihak kepada kebenaran, maka kata hati yang merupakan ''kesadaran terdalam'' adalah suara kebenaran.

Di tengah situasi kehidupan yang berlangsung dinamis dan semangat reformasi yang terus menggema di sana-sini hingga saat ini, timbul nuansa-nuansa pemikiran dari berbagai kalangan -- baik yang ''ditokohkan'' masyarakat maupun yang ''menokohkan'' diri sendiri --di sekitar tema upaya membawa bangsa ini keluar dari berbagai macam krisis menuju keadaan yang lebih baik. Acap kali dalam situasi semacam itu orang ''terlalu bersemangat'' dengan retorika-retorika, dan berusaha mengklaim pandangan sendiri sebagai yang benar dan ideal, sementara pihak lain dituding sebagai yang salah atau keliru.

Nuansa-nuansa itu memang menambah semaraknya kebebasan berpendapat. Akan tetapi hal itu bisa jadi akan menjerumuskan massa awam --baik yang dilibatkan secara langsung maupun tidak-- kepada suatu krisis dan ''kebingungan'' baru, sebab tidak jarang ukuran kebenaran pendapat mereka itu paralel dengan kepentingan yang sangat relatif, yang orang lain mungkin tidak tahu.

Untuk itulah, seyogianya setiap pihak mempertimbangkan objektivitas sikap dan pandangannya dengan kembali ''bertanya kepada hati nurani'', dan tidak membohongi diri sendiri. Akhirnya, kita berharap dengan berkonsultasi kepada hati nurani itu kita akan mampu melihat dengan jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan yang ada di sekeliling kita, sebagaimana isyarat firman Allah (QS Al-Isra' (17): 81), ''Katakanlah: Kebenaran telah datang dan kebatilan pun telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.'' Mudah-mudahan Allah segera memberikan pertolongan-Nya kepada bangsa kita yang sedang mengalami ''cobaan nasional'' saat ini. Amiin yaa Mujib as-Sa'ilin.

satu tubuh

.
0 comments

Sesungguhnya orang mukmin itu makan dengan satu perut, sedang orang kafir makan dengan tujuh perut -- Nabi Muhammad SAW

Seperti kendaraan bermotor, dalam bulan Puasa kita di-tune-up, di-spooring, di-balancing, supaya lancar dalam pengembaraan kehidupan sehari-hari kita selanjutnya. Begitu besar perhatian Tuhan kepada diri kita, hal itu terasa di bulan-bulan kemudian kita berada dalam keadaan stabil. Sampai kemudian kita dipertemukan dengan bulan Puasa lagi. Alhamdulillah. Seberapa besar keperluan yang kita butuhkan, rasanya selalu dicukupi Allah. Kadang terasa kita begitu dimanjakan-Nya. Ya, kita juga lupa bahwa kita sebenarnya sudah lahir kembali, menjadi fitri untuk menjalani hidup ini. Mengapa lalu di bulan-bulan kemudian kita kadang hidup lebih mewah lagi. Mengapa kita lupa gemblengan rohani dan jasmani yang baru saja kita jalani.

Mengapa kemudian kita tidak khusus, misalnya, melakukan pemberdayaan kekuatan keadilan sosial untuk menanggulangi kesenjangan sosial yang semakin tajam. Sebenarnya seberapa besar kekuatan yang kita miliki punya pengaruh terhadap rasa keadilan sosial orang-perorang. Sayyid Qutub menyatakan bahwa Islam membenci keadaan masyarakat yang terbagi dalam kelompok kaya dan miskin. Di dalam masyarakat seperti itu terkandung rasa sakit hati dan kedengkian yang bisa mengancam keutuhan masyarakat serta merusak jiwa dan hati manusia. Juga tekanan hidup atas orang-orang miskin, bisa mendorong mereka kepada tindakan-tindakan yang haram dan terlarang, misalnya mencuri, merampok, menjual harga diri dan kehormatan, merasa benar sendiri. Tindakan-tindakan semacam ini sangat bertentangan dengan fitrah manusia dan dimusuhi Islam.

Hadis riwayat Bukhari di atas mengingatkan kita bahwa kebutuhan asal cukup dan kebutuhan asal rakus mendudukkan orang-perorang dalam kondisi ketakwaan yang saling bertentangan. Seorang yang baik juga nampak dalam ketakwaan ketika menghimpun kekayaan. Juga diperhitungkan bagaimana kekayaan itu bisa didapat, dari mana, lalu untuk apa. Sampai pada akhirnya kekayaan itu wajib ''dipertemukan'' dengan Allah Azza wa Jalla. Bisakah kekayaan kita dipertanggungjawabkan? Apakah ada kelompok masyarakat yang kita rugikan ketika kita menumpuk kekayaan. Masa-masa ibadah tak akan pernah berakhir. Kesucian menyertai langkah kita dan tindakan-tindakan kita di kantor. Itulah karunia Allah terbesar. Pikiran kita, ucapan kita, dan perilaku kita sehari-harinya mencerminkan keagungan manusia. Kita adalah wakil Tuhan di bumi, sehingga napas keadilan sosial yang kita hembuskan merupakan kewajiban yang utama karena kita seorang mukmin. Subhanallah. -

Wednesday, August 26, 2009

ikhtiar

. Wednesday, August 26, 2009
0 comments

Kitab suci Alquran menggunakan kata ikhtiar ini pada beberapa tempat. Misalnya pada surat Thaha ayat 13, surat ad-Dukhan ayat 32, serta surat al Qasas ayat 68. Ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa ikhtiar merupakan sifat Allah SWT.

Dalam Islam dikenal istilah Ahl al-Ikhtiyar (istilah dalam fikih; siyasi atau politik), yakni badan yang memilih seorang imam atau khalifah pada suatu negara atau pemerintahan Islam. Dalam pemahaman golongan Sunni, seorang imam atau khalifah menduduki jabatan itu melalui pemilihan yang dilakukan secara musyawarah oleh ahl a-Ikhtiyar atau disebut juga Ahl al-Hall wa al-'Aqd (Badan Pengurai dan Pengikat).

Menurut al Mawardi (ahli fikih), anggota Ahl al-Ikhtiyar harus memenuhi tiga syarat, yaitu pertama, bersifat adil, kedua, mengetahui hal-hal yang berguna untuk dapat menentukan persyaratan seorang calon imam atau khalifah, dan ketiga, mempunyai kearifan dan wawasan yang luas serta bijaksana dalam memilih seorang imam.

Berbeda dengan golongan Syiah. Menurut golongan ini, Ahl al-Ikhtiyar tidak ada karena seorang imam telah ditunjuk atas dasar wasiat oleh imam sebelumnya. Penunjukan itu tidak bisa batal meskipun imam yang terpilih telah meninggal sebelum yang berwasiat meninggal. Ia tetap diyakini sebagai imam al-Muntazar (yang ditunggu-tunggu) untuk membimbing umat pada saat mereka berada dalam kekacauan.

Dalam ilmu kalam (teologi), ikhtiar berarti kebebasan untuk memilih (hurriah) atau free will . Ini terdapat dalam aliran Kadariah yang dipelopori Ma'bah al Juhani (w.80 H) dan Gailan al Dimasyqi. Menurut paham Qadariah, manusialah yang mewujudkan perbuatannya dengan kemauan dan tenaganya. Daya telah diberikan Allah SWT sebelum manusia bertindak. Oleh karena itu, manusia bebas memilih dan berkehendak. Kebebasan memilih (seperti berbuat sesuatu atau tidak, beriman atau kafir, berbuat baik atau jahat) dengan segala konsekuensinya terlihat dalam surat Ali Imran ayat 164, surat ar-Raad ayat 11, al Kahfi ayat 29 dan surat Fussilat ayat 40.

Kebalikan dari paham Kadariah adalah paham Jabariah. Menurut paham ini, segala kehendak dan perbuatan manusia pada hakikatnya adalah perbuatan Allah SWT. Paham demikian dapat dipahami dari teori kasb abu Hasan al Asyari. Paham kasb menjelaskan bahwa perbuatan manusia tidak efektif. Kehendak dan kemauan manusia adalah juga kehendak dan kemauan Allah SWT. Menurut Asyari, kasb hanya dimaksudkan sehubungan dengan tanggungjawab manusia, karena memang hanya Tuhan yang berkehendak mutlak.

Menurut Ibnu Sina, ikhtiar diartikan sebagai kekuatan untuk memilih (power of choice). Kekuatan memilih ini berdasarkan atas daya adn pengetahuan yang diberikan Allah SWT melalui upaya dan intelek manusia, sehingga ia dapat memilih sesuatu yang akan dikerjakan atau tidak dikerjakan.

disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Tuesday, August 25, 2009

Pengaruh Makanan pada Perilaku

. Tuesday, August 25, 2009
0 comments

Setiap orang beriman diperintahkan Allah SWT untuk senantiasa mengonsumsimakanan yang halal dan baik (mengandung gizi dan vitamin yang cukup). Dua hal tadi--makanan halal danbaik-- di samping akan menyebabkan terjaganya kesehatan jasmani, juga akan semakin mendorong meningkatkan kualitas takwa dan syukur kepada Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dinyatakan di dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 172,''Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.''

Sebaliknya, makanan yang haram, baik substansi maupun cara mendapatkannya,meskipun secara
lahiriyah mengandung gizi dan vitamin yang cukup, akan menumbuhkan perilaku yang buruk dan
merusak, baik bagi dirinya maupun bagi keluarganya di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Sabda Rasulullah SAW, ''Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih utama baginya.''

Oleh karena itu yang memerlukan perhatian, pikiran, hati, dan keimanan adalah menentukan
cara mendapatkan makanan atau rezeki yang bersih dan halal itu. Misalnya tidak melalui penipuan, korupsi, membungakan uang, menerima suap, dan cara-cara batil lainnya. Apalagi mengambil harta negara yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat banyak. Wallahu a'lam.

Gelisah 2

.
0 comments

WORDPRESS.COM/ILUSTRASIResah dan gelisah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang, siapapun ia, pernah diserang gelisah. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa resah dan gelisah yang berkelanjutan sangat berbahaya. Orang yang gelisah akan diserang oleh rasa tidak percaya diri. Kecemasan dan kegelisahan memang dapat melanda siapa saja dari anak kecil sampai orang dewasa, baik rakyat biasa maupun sampai pemuka. Yang menimbulkan pertanyaan dalam hati kecil kita ''Kok orang beriman dapat mengalami kegelisahan? Orang beriman harus bisa mengendalikan dari berbagai macam perasaan takut berlebihan, apakah perasaan takut miskin, mati, tak mendapat jodoh, apakah takut sebentar lagi akan datang masa pensiunnya, yang dulu tanda tangannya berlaku dan berpengaruh setelah itu tidak lagi, dan berbagai jenis ketakutan yang tidak pada tempatnya.

Di sini kita jawab bahwa iman adalah suatu terminotif yang dipakai dalam Islam. Istilah psikologi iman itu dapat dikatakan sebagai sesuatu yang mampu mengintegrasikan pribadi seseorang sehingga ia tumbuh jadi manusia ''dewasa'' dan ''sehat'' nah itulah aqidah Islam sumber keimanan. Akan halnya kaitan dengan keimanan, bukan berarti orang yang beriman tidak merasakan kegelisahan, tapi (orang beriman itu) harus mampu mengatasi dan mengelola kegelisahan menjadi sesuatu yang positif. Seseorang sebelum menghadapi pensiun 10 tahun sebelumnya ia sudah membuat rencana, misalnya berwiraswasta, sehingga apabila datang masa pensiun ia mampu mengelola segala problemanya, bahkan tetap sukses. Orang yang benar-benar keimanannya kepada Allah segalanya mengarahkan kehidupannya sehari-hari kepada Allah seperti firman Allah swt ''Yang beriman dan tenteram hatinya lantaran ingat kepada Allah, ketahuilah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS 13:28).

Mari kita mempelajari Islam dari sumber aslinya yaitu Alquran dan Sunah dengan sasaran marifah (mengenal) Allah, Islam, dan Rasul. Memperkuat hubungan dengan Allah caranya, memperbanyak ibadah dan zikir. Setelah memperkukuh iman, jauhkan maksiat, hadapi segala masalah yang datang sebagai objek, jangan libatkan diri dalam masalah sehingga kita terlarut dalam persoalan dan merasa tak mampu mengatasi masalah. Sadarilah bahwa setiap masalah yang datang dapat kita hadapi, tentu saja dengan izin Allah seperti firmannya: ''Allah tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya....'' (QS 2:286). Mari kita cari yang mengakibatkan munculnya kegelisahan, apakah sebab internal atau sebab eksternal. Jika sebab internal yang menjadi pangkal tentu kita harus memperbaiki diri, jika sebab eksternal kita harus berusaha menyesuaikan persoalan tersebut, kita harus mengidentifikasikan penyebab masalah. Yang kedua mengidentifikasikan kemampuan yang ada pada kita untuk mengatasi masalah tersebut dan terakkhir mencari bantuan untuk menyelesaikan masalah dan mengatasi penghambat selesainya suatu masalah. Lantas bagaimana masalah yang benar-benar tidak diatasi lagi? Tidak ada cara lain kecuali menerima keadaan yang sifatnya sabar dan tawakal kepada Allah!

Hijrah

.
0 comments

Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Berangkat dari sabda Rasulullah Saw seperti dalam hadits di atas, tentu sebagai mu’min akan senantiasa berusaha menjaga dirinya dari ucap, sikap dan perilaku yang menyimpang dari aturan dan hukum-Nya yang selanjutnya tetap istiqomah dalam meniti jalan menuju ridha Allah.

Berbicara tentang “Hijrah” dalam konteks kekinian, layaklah kiranya kita simak dan renungkan seruan Allah SWT yang tertuju kepada Rasulullah Saw yang hakikatnya tertuju pula kepada kita sebagai pengikutnya. Seruan Allah SWT lewat firman-Nya: “Ya ayyuhal muddatstsir, qum fa andzir, wa rabbaka fa kabbir, wa tsiyaabaka fa thahhir, war rujza fahjur, wa laa tamnun tastaktsir, wa li rabbika fash bir” (QS. Al Muddatstsir, 74:1-7)

Kalau kita membaca risalah turunnya wahyu, tidak lama setelah turunnya ayat “Nubuwah” (lima ayat pertama dalam Surat Al ‘Alaq) yang secara resmi menobatkan Muhammad sebagai Nabi Allah. Maka, tidak lama kemudian disusul dengan turunnya “tujuh” ayat pertama Surat Al Muddatstsir, yang secara resmi mengangkat Muhammad sebagai Rasul Allah, pengemban risalah melalui “tujuh” ayat risalah tersebut.

Inilah awal diri Rasulullah Saw berfungsi sebagai Rasul Allah, membawa risalah Allah SWT untuk “mengislamkan” manusia yang saat itu dalam kondisi “Jahiliyyah”. Firman-Nya diawali, “Ya ayyuhal muddatstsir” (Wahai orang yang berselimut). Kalau kita baca dalam “Asbabul Nuzul” ayat ini diriwayatkan, Rasulullah Saw pada waktu itu sedang berselimut. Saat itu Beliau memohon kepada istrinya, Khadijah Ra. untuk menyelimuti tubuh Beliau setelah menerima wahyu “lima” ayat pertama dalam Surat Al ‘Alaq di Gua Hira yang pulang ke rumah kondisi badannya menggigil.

Tetapi para ahli tafsir tidak ingin berhenti hanya pada pengertian “harfiah”nya dari kata “selimut”, yang arti “harfiah”nya adalah, orang yang berselimut atau mempergunakan selimut untuk menghangatkan badanya sendiri. Sehingga para ahli tafsir mengartikan “selimut” dengan arti “maknawi”, wahai orang yang menyelimuti dirinya dengan tidak mau peduil dengan kondisi lingkungannya. Karena orang yang berselimut identik dengan tanda-tanda orang yang terkesan hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak mau peduli terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

Bukankah Rasulullah Saw pergi ke Gua Hira itu hanya ingin mendapatkan petunjuk dari Allah SWT tentang bagaimana membimbing ummat manusia yang sudah sangat sesat pada waktu itu. Kenapa setelah beliau mendapat wahyu malah menyelimuti dirinya ? Konteksnya kemudian Allah SWT berfirman, “Qum” (bangkitlah,bangunlah), lemparkan selimut ketidakpedulianmu itu. Persoalan ummat tidak akan selesai hanya dengan menyelimuti diri, seakan-akan kita hanya ingin menyelamatkan diri kita masing-masing lalu kita tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan kita.

Bangkit atau bangun tidak sekadar bangkit. Lalu apa yang harus dilakukan ? Tugas yang harus dilakukan adalah, “fa andzir” (memberi pertingatan). Lemparkan “selimut ketidakpedulian”, segeralah bangkit dan laksanakan tugas untuk memberikan peringatan agar mereka yang sesat segera meninggalkan jalan sesat kehidupan mereka, yang lalai agar cepat sadar atas kelalaiannya. Tidak dibenarkan sama sekali kita menyelimuti diri dengan tidak mau peduli atas kondisi yang terjadi di sekitar kita. Tetapi kita harus siap bangkit dan segera memberikan peringatan kepada masyarakat yang berada dalam jangkauan kemampuan kita. Karena tugas dakwah “bukan hanya” tugas para da’i, ulama atau kiai saja, melainkan merupakan tugas setiap orang muslim. Salah satu keterlambatan dakwah Islam selama ini adalah kemungkinan kesalahan persepsi atas tugas dakwah ini yang seolah-olah tugas dakwah hanya tugasnya para da’i, ‘ulama atau para kiai saja.

Tugas setiap orang mu’min atau muslim tidak hanya sekadar bisa menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi harus “saling mengingatkan” dalam kebenaran. Maka digunakanlah bahasa, “wa tawaashau”, bukan “taushiyah”. Makna kata “taushiyah” adalah nasihat dari satu fihak kepada fihak yang lain, tapi kalau “tawaashau” sifatnya adalah “saling menasihati”. Karena perlu disadari bahwa semua manusia sangat berpotensi untuk berbuat kesalahan atau lalai.

Pada umumnya, nasihat orangtua kepada anaknya, guru kepada muridnya, pimpinan kepada bawahannya, ‘ulama kepada ummatnya. Namun orangtua, guru, pimpinan atau ‘ulama itu semua adalah manusia yang sangat mungkin berbuat salah. Oleh karena itu di dalam Islam anak harus siap dengan santun mengingatkan orangtua yang berbuat kesalahan, demikian pula murid kepada gurunya, bawahan kepada pimpinannya atau ummat kepada ‘ulamanya. Kalau ada ‘ulama keliru atau berprinsip salah dan pernyataannya “sangat menyesatkan”, maka ummat pun “harus berani” segera mengingatkannya. Jangan dia dibiarkan dalam kesesatannya karena akan membawa akibat penyesatan terhadapo ummat yang lebih luas lagi.

Hal inilah yang selama ini terkesan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua harus kita benahi dengan kita mau bangkit memberi peringatan. Maka dari itu, “amar ma’ruf nahyi munkar” ini adalah kewajiban setiap orang mu’min (QS. Ali Imran, 3 : 104 & 110). Ini pula seperti apa yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw, “Sampaikan oleh kalian apa yang telah kalian terima dariku walaupun hanya satu ayat”.

Lalu apa yang harus kita dakwahkan ? Paling tidak, ada “Lima” konsep dakwah yang harus ditempuh. Konsep Pertama, kita simak lanjutan ayatnya, “wa rabbaka fa kabbir” (Allah Tuhanmu itu Akbar-kan). Yang harus kita dakwahkan kepada masyarakat adalah menyadarkan atau mengajak ummat sehingga mereka hanya mau meng-“Akbar”-kan Allah dalam semua aspek kehidupannya. Tidak ada yang “Akbar” kecuali Allah. “Allahu Akbar” dari segi Dzat juga dalam sisi aturan dan hukum-Nya. Dan, kalau kita sudah menyatakan bahwa “Allahu Akbar”, maka semua selain Allah tidaklah ada yang Akbar. Baik hawa nafsu maupun akal kita itu kecil. Alam jagad raya ini dengan segala isinya semuanya kecil di hadapan-Nya. Oleh karena itu semua harus tunduk kepada Allah yang Akbar.

Konsep Kedua, “Wa tsiyaabaka fa thahhir” (Bersihkanlah pakaianmu). Kita harus sudah mulai mengupayakan mensucikan pakaian lahir terutama bathin kita. Membersihkan diri kita dari dosa dan kemaksiatan. Kita mulai mau membersihkan mental atau akhlak-akhlak yang kotor dari kehidupan masyarakat.

Sedangkan konsep Ketiga, “war rujza fah jur” (segala perbuatan dosa dan maksiat itu harus segera dijauhi). Kalau kita perhatikan bahasa Al Qur’an selalu menggunakan kata “jauhi” atau “jangan dekati” bila berbicara tentang larangan (QS. Al Baqarah, 2 : 35; Al A’raaf, 7:19, Al An’aam, 6:151-152; Al Israa’,17:34). Larangan-larangan semacam ini dimaksudkan untuk mendidik manusia agar tidak melakukan pelanggaran. Selain itu memberikan pendidikan pula kepada manusia bahwa semua sarana dan prasarana yang bisa menimbulkan kemaksiatan pun terkena larangannya.

Konsep Keempat, “Wa laa tamnun tastaktsir” (Dan janganlah kamu memberi dengan maksud ingin memperoleh balasan yang banyak). Karena tugas dakwah ini adalah tugas yang mesti didasari ikhlas semata-mata karena Allah, maka janganlah kita senantiasa berharap imbalan yang lebih banyak dari apa yang telah kita lakukan. Bukan berarti manusia tidak boleh memetik hasil dari jerih payah perjuangannya, tetapi tetap harus sewajarnya saja kita layak berharap.

Adapun konsep dakwah Kelima, “Wa li rabbika fash bir” (Maka bersabarlah (taat) bagi Tuhanmu). Oleh karena tugas dakwah ini adalah tugas yang tidak ringan, maka tentunya sangat diperlukan kesabaran dan ketahanan diri kita untuk tetap istiqomah dalam medan perjuangan. Kita mesti tanamkan dalam diri kita sebuah kesabaran, karena tidak mustahil kita akan berhadapan dengan orang-orang yang sangat terusik dengan dakwah kita.

Ini semua risiko yang mesti kita hadapi bukan malah kita lari meninggalkannya. Tidaklah pantas bila kondisi “medan dakwah” telah mengundang kita untuk terjun langsung dalam kancah perjuangan, lantas tiba-tiba kita lari meninggalkannya. Kita sadari, sungguh tidaklah mudah kita mengajak orang untuk senantiasa meng-“Akbar”-kan Allah dalam setiap aspek kehidupannnya. Tidaklah ringan kita memberikan teladan tentang kebersihan lahir terutama bathin kita sehingga tatanan kehidupan masyarakat kita bisa bersih dari yang munkar.

Tidak gampang pula kita memberikan arahan kepada orang untuk senantiasa mau menjauhi atau tidak mendekati perbuatan dosa, apalagi terhadap orang yang selama ini hidupnya telah bergelimang dengan dosa dan maksiat sehingga dosa dan kemaksiatan yang dilakukannya telah dianggap bukanlah dosa lagi.

Walaupun terlihat betapa beratnya “medan dakwah” kita, tentunya harus tetap kita jalani dengan hanya semata-mata didasari keikhlasan untuk mencapai ridha Allah. Kesabaran dan ketahanan diri serta istiqomah dalam “medan dakwah” inilah memang menjadi syarat penting dari semua ini.

Semoga kita semua dapat meng-“hijrah”-kan diri kita dari hal-hal yang dapat mengundang murka-Nya ke arah jalan yang lurus menuju ridha Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Virus-Virus Akidah

.
0 comments

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon buruk yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun” (QS. Ibrahim, 14;24-26)

Para “Mufasir” (Ahli Tafsir) sepakat bahwasanya akar pohon yang ditamsilkan dengan Kalimah Thoyyibah adalah kalimat Tauhid, “Laa ilaaha illallah”. Artinya, seorang yang dalam hidupnya tidak berakar kepada prinsip akidah “laa ilaaha illallah”, tidak ubahnya pohon yang tidak berakar, atau akarnya sudah terangkat dari dasar tanah. Pohon seperti itu jangankan berbuah sehingga bermaslahat terutama bagi mereka yang hidup di sekitar pohon tersebut, bahkan untuk bertahan hidup saja mustahil. Pada ayat lain, Allah SWT menggambarkan orang-orang yang tidak beriman (kafir) adalah, “Mereka orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”(QS. Al Kahfi, 18:104).

Dalam berbagai hadits, Rasulullah Saw menyatakan bahwasanya kalimat Tauhid, “laa ilaaha illallah” itu tiket seseorang untuk masuk surga sekaligus membebaskannya dari ancaman keabadian di Neraka Jahannam. Akar akidah inilah yang selama ini coba digerogoti oleh segelintir orang di negeri ini, ironisnya mereka mempergunakan nama Islam atau atribut-atribut Islam, yang tentunya dimaksudkan agar lebih memudahkan tercapainya tujuan mereka menyesatkan sesuatu yang termahal bagi kehidupan mu’min, yakni akidah.

Berbagai macam virus yang telah menjangkiti akidah sebagian ummat terutama mereka yang tidak memiliki akar akidah yang kokoh, di antaranya virus yang cukup berbahaya bagi ummat, khususnya generasi muda adalah virus yang popular dengan sebutan “Sepilis’ (Sekularisme, Plurarisme dan Liberalisme) karena di samping metoda pendekatan mereka yang banyak bermain dengan logika, juga karena beberapa tokohnya sudah “kadung’ dikenal di masayarakat sebagai “Cendekiawan Muslim” dan atau ulama/kiai.

Virus sekularisme telah lama menjangkiti dan menggerogoti akidah sebagian ummat di negeri yang “konon” mayoritas muslim. Terbukti tidak sedikit di antara para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang sudah tidak merasa terancam keislamannya dengan dzalim dan fasik (QS. Al Ma-idah, 5 : 45,47) atau bahkan kufur (QS. Al Ma-idah,5:44) tatkala mereka tidak mempergunakan wewenang yang dimilikinya untuk menetapkan dan atau melaksanakan syariat Islam secara “Kaffah” (Integral) mencakup seluruh aspek hidup.

Sementara virus liberalisme yang dulu hanya milik Iblis, kini telah berhasil disebarkan Iblis kepada kelompok ini. Mereka dengan takabburnya menuhankan hawa nafsu (QS. Al Furqaan, 25:43; Al Jaasiiyah, 45:23) dan akal mereka dengan menolak bahkan melecehkan syariat Allah SWT yang tidak cocok dengan akal mereka. Benar dan salah adalah yang benar dan salah menurut akal. Dengan gegabahnya mereka nyatakan “Tuhan telah mati” karena Tuhan yang sesungguhnya adalah akal mereka. Kalaupun mereka masih meyakini dan menjalankan sebagian syariat, maka hanyalah sebatas ajaran agama yang selaras dan dapat dibenarkan akal mereka.

Sesuai dengan namanya, mereka benar-benar merasa memiliki kebebasan mutlak yang tidak boleh dibatasi siapa pun bahkan oleh Allah SWT. Ini tentu saja bertolak belakang dengan keimanan seorang muslim yang mengakui tidak ada kebebasan mutlak dimiliki manusia. Satu-satunya kebebasan yang dianugerahkan Allah SWT sebagai Al Khalik kepada manusia sebagai makhluk hanyalah kebebasan memilih untuk beriman atau kafir (QS.Al Kahfi, 18 : 29).

Bila seseorang memilih mu’min, maka sudah tidak memiliki kebebasan lagi, karena yang bersangkutan sudah harus “Aslama – Islam” (tunduk, patuh, taat) terhadap syariat Allah SWT, dimengerti atau tidak dimengerti oleh akalnya. Sepanjang syariat itu ditetapkan dengan Nash yang Qath’i (Al Qur’an dan As Sunnah) yang tergolong ayat Muhkamat. Akal hanya diberi kebebasan berijtihad terhadap hal yang tidak ada Nash atau Nashnya “dzanni” (mengundang keraguan), “tsubuut” (hadits shoheh atau bukan) atau “dalaalahnya” (pengertiannya yang dapat mengundang berbagai interpretasi). Bila Iblis dinyatakan gugur keimanannya dan dilaknat Allah SWT karena dengan logika sesatnya mengkufuri “satu” aturan Allah SWT. Di negeri ini, tokoh kelompok ini malah diberi gelar Cendekiawan Mslim atau ulama.

Virus akidah lainnya yakni pluralisme terbilang sangat aneh bila dilihat dari prinsip dasar keyakinan akan hakikat kebenaran, Sungguh sulit diterima akal sehat bila dua atau tiga hal yang secara prinsip bukan hanya saja berbeda, bahkan sangat bertentangan, lalu dinyatakan kelompok ini semua benar dan selamat. Setiap orang yang memiliki keyakinan pasti akan sulit memahami pandangan seperti ini. Logika yang paling sederhana, bila seseorang meyakini suatu kebenaran maka pada saat yang sama ia akan meyakini sesat segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya,

Menurut kelompok ini, setiap amal sepanjang bermaslahat bagi orang lain, maka ia menjadi amal shaleh apa pun agama yang diyakininya. Padahal sebagaimana ditamsilkan dalam QS. Ibrahim ayat 24-25 tersebut di atas, bahwa hanya dengan akar yang benar (Kalimat Tauhid) pohon tersebut dahan dan rantingnya menjulang ke langit (Habluminallah) dan berbuah yang buahnya bisa dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitar pohon tersebut (Hablumminannaas). Seperti halnya kaum liberalism, kelompok pluralisme juga menuhankan akal mereka. Mereka interpretasikan satu-dua ayat sekehendak mereka tanpa memperdulikan kaidah-kaidah tafsir dan tanpa mau peduli bila pandangan mereka nyata-nyata bertentangan dengan sekian puluh bahkan ratus ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan tentang maksud ayat yang mereka artikan secara serampangan.

Ketiga virus ini memang baru menyesatkan segelintir ummat di Negeri ini. namun kehadirannya harus terus diwaspadai karena tidak mustahil bisa menjangkiti ummat yang lemah akidahnya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Monday, August 24, 2009

Takhayul dan Mistik

. Monday, August 24, 2009
0 comments

Dunia takhayyul dan mistik sepertinya masih enggan enyah juga dari kehidupan masyarakat kita yang konon mayoritas muslim. Bahkan akhir-akhir ini, sebagian media massa ada yang sangat getol menyiarkan acara-acara yang berbau kemusyrikan. Padahal, Rasulullah Saw. 15 abad yang lalu telah mengingatkan kita akan bahaya kemusyrikan, yang boleh jadi tidak disadari keberadaannya oleh seorang muslim, seperti tidak sadarnya seseorang akan keberadaan seekor semut hitam di atas batu hitam dalam ruangan gelap gulita di malam hari.

Takhayyul dan mistik seperti yang kita saksikan dalam kehidupan masyarakat, sudah bukan lagi seperti semut hitam, tapi sesuatu yang sudah sangat nyata. Kemusyrikan merupakan kedzaliman yang besar (Q.S. Luqmaan : 13) dan merupakan bentuk kesesatan yang sangat jauh (Q.S. An-Nisaa' : 116), dimana bila seseorang mati dalam kemusyrikan maka ia akan kekal di dalam Neraka, karena tidak akan memperoleh ampunan Allah SWT (Q.S. An-Nisaa' : 48) yang karenanya ia tidak akan pernah berjumpa dengan Allah SWT (Q.S. Al-Kahfi : 110).

Berbagai bentuk takhayyul dan mistik yang nyata-nyata beraroma kemusyrikan di antaranya :

- Beribadah kepada selain Allah SWT dengan melakukan kegiatan ritual yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah Saw, seperti, bertapa, puasa mutih, mati geni, dan lain sebagainya.

- Menyembelih hewan dan mempersembahkannya kepada selain Allah SWT.

- Mendatangi kuburan para wali dan orang-orang saleh atau tempat-tempat yang dikeramatkan, lalu meminta dan berdoa kepada arwah orang yang telah tiada untuk memberkahi hidupnya.

- Meyakini bahwa pada benda-benda tertentu, seperti, keris, batu permata, jimat, isim atau benda-benda lain dapat memberikan manfaat memanjangkan umur, memperoleh rezeki, jabatan, jodoh dan lain sebagainya.

- Meyakini nasib manusia ditentukan oleh bintang dengan ramalan-ramalannya, dan bahwasanya ada hari baik dan hari sial.

- Percaya kepada tukang ramal, dukun atau paranormal, bahwa mereka bisa memastikan apa yang akan terjadi dan menimpa kehidupan seseorang. Padahal, al-Qur'an dengan tegas menyatakan, bahwa tidak ada satu makhluk pun (malaikat, jin dan manusia) yang dapat memastikan apa yang akan terjadi di masa mendatang (Q.S. Luqman : 34).

- Meyakini orang-orang tertentu seperti dukun santet, memiliki kekuatan ghaib dapat mencelakakan seseorang. Padahal, jangankan manusia biasa, Rasulullah Saw saja tidak memiliki daya kemampuan untuk menimpakan mudharat atau memberi manfaat kepada orang lain, kecuali bila Allah SWT menghendakinya (Q.S. Al-A'raaf : 188).

Semoga kita dapat meningkatkan keimanan dan menjauhi segala bentuk khurafat dan mistik yang dapat menjerumuskan seseorang ke lembah kemusyrikan.

Wallahu a'lam bish-shawab

Dosa Yang Tak Terampuni

.
0 comments

Allah SWT tidak hanya Maha "Ghafuur" (pengampun) tapi juga Maha "Afuwwun" (penghapus) terhadap segala macam dosa (Q.S. Az-Zumar : 53) di mana bila Dia berkenan mengampuni dosa seseorang, maka dihapuslah seluruh dosa dari diri orang tersebut. Sehingga yang bersangkutan tak ubahnya orang yang tidak pernah berbuat dosa (Hadits).

Prinsip ini berlaku bagi segala jenis dosa, terkecuali, "kufur" dalam berbagai bentuknya, di antaranya "syirik", yang apabila seseorang sampai wafatnya tidak bertaubat, maka Allah SWT tidak akan pernah mengampuninya (Q.S. An Nisaa' : 48, 116) yang bersangkutan terancam abadi di Neraka Jahannam, sedetik pun tidak akan berjumpa dengan Allah SWT yang hanya berkenan menjumpai hamba-hamba-Nya yang ada si surga (Q.S. Al Kahfi : 110, Al Maa-idah, 72)

Yang dimaksud "syirik" di sini, tentu saja tidak sebatas menyekutukan Dzat Allah SWT semata, sebab apalah artinya bila Allah SWT di-Esa-kan dalam Dzat-Nya, tapi tidak di-Esa-kan dalam sifat, aturan dan hukum-hukum-Nya ? Umumnya orang-orang musyrik sejak zaman Nabi Nuh As sampai saat ini meyakini Allah SWT dari sisi "Tauhid Rububiyyah" (Esa-nya Allah sebagai pencipta, pemelihara dam pendidik) yang membuat mereka kemudian tergelincir ke dalam kemusyrikan adalah dari sisi "Tauhid Uluuhiyyah" (Esa-nya Allah sebagai Dzat satu-satunya yang berhak disembah dalam ibadah secara integral).

Firman Allah SWT : "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?, niscaya mereka akan menjawab, semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui' (Q.S. Az Zukhruf : 9). "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab : "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah) ?" (Q.S. Az Zukhruf : 87). Dengan kata lain, men-"Tauhid" (Esa) kan Allah SWT dalam pengabdian merupakan ujian terberat dalam mempertahankan dan mengembangkan fitrah iman dan Islam (Q.S. Al A'raaf : 172; Ar Ruum : 30). "Fitrah" dalam pengertian "suci" dari kekufuran dan kemusyrikan, dan dari segala dosa.

Ibadah yang dimaksud tentunya tidak sebatas ibadah “mahdhah” semata, tapi mencakup segala keterikatan dan keterkaitan hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Al Khalik seperti rasa cinta, takut, permohonan perlindungan, berdoa, bertawakkal, berharap, ruku, sujud, shalat, shaum, thawaf, berqurban, haji dan lain sebagainya. Termasuk syirik tentunya, yang berkeyakinan bahwa ada selain Allah SWT yang memiliki hak menetapkan aturan dan hukum. Menghalalkan yang diharamkan Allah SWT dan atau sebaliknya menetapkan undang-undang dan hukum, menghalalkan zina, riba, membuka 'aurat. Menetapkan hukum yang nyata-nyata bertentangan dengan hukum pidana Islam seperti potong tangan bagi pencuri, dera atau rajam bagi pezina, qishash bagi pembunuh dan sebagainya. Atau mengubah ketentuan-ketentuan syara' dalam masalah zakat, waris, nikah dan sebagainya (An Nisaa' : 61; Asy-Syuara : 21)

Setiap mu'min harus ekstra hati-hati dalam berprinsip, berucap, bersikap dan bertindak agar tidak terjerumus dalam kemusyrikan, Rasulullah Saw lebih jauh mengingatkan bahwa kemusyrikan tidak hanya hadir dalam bentuk yang eksplisit seperti dalam beberapa contoh tersebut di atas, tapi juga dalam bentuk sesuatu yang saking samarnya membuat seseorang tidak menyadari bila dirinya telah musyrik. Seperti tidak sadarnya seseorang bila di hadapannya terdapat seekor semut hitam karena semut itu berada di atas batu hitam dalam ruangan yang gelap pada malam hari (HR. Ahmad)

Memang benar, kecil kemungkinan ada seorang mu'min yang selain menyembah Allah SWT juga menyembah berhala dalam bentuk patung, misalnya, tapi kiranya masih ada orang yang mengaku mu'min mendatangi kuburan atau tempat-tempat yang dikeramatkan lalu mereka berdo'a dan meminta-minta berkah kepada arwah-arwah yang tentu saja, "laa haula walaa quwwata illa billah". Jangankan telah mati, ketika masih hidup sekalipun seseorang tidak bisa memberi manfaat atau mudharat kepada orang lain. Jangankan manusia biasa, bahkan Rasulullah Saw sebagai hamba Allah yang paling dekat dengan Allah SWT diperintahkan untuk mengingatkan ummatnya bahwa dirinya tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk memberi manfaat atau mudharat tanpa izin Allah SWT (Q.S. Al A'raaf : 188).

Kendati Allah SWT sudah dengan tegas sekali menyatakan, tidak ada satu "Nafs (jiwa) pun, baik manusia, jin maupun malaikat yang dapat memastikan apa yang akan terjadi (Q.S. Luqman : 34). Kenyataan yang kita saksikan masih ada saja sementara orang yang mendatangi paranormal, dukun atau apalah namanya, lalu ia meyakini betul akan kebenaran ramalannya, padahal Rasulullah Saw sudah mengingatkan, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau paranormal, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, dan ia meyakini kebenaran ramalan sang dukun, maka sungguh ia telah kufur dengan (ajaran Islam) yang diturunkan kepada Muhammad (HR. Ahmad dan Al hakim). Paling tidak, ia telah mengkufuri Q.S. Luqman 34, dan kufur terhadap satu ayat Al Qur'an berakibat gugurnya keimanan secara keseluruhan, seperti gugurnya 80 ribu tahun keimanan Iblis hanya karena kufur terhadap satu perintah Allah SWT

Ironis memang, nilai-nilai kemusyrikan itu kini bahkan telah lama masuk ke dalam rumah-rumah kita lewat berbagai tayangan di televisi. Tayangan-tayangan tersebut tidak hanya saja menyesatkan akidah, tapi juga membodoh-bodohi ummat, menggiring para pemirsa untuk tidak lagi menggunakan akal sehat di dalam menghadapi realitas hidup dan kehidupan. Celakanya, tayangan-tayangan tersebut dikemas dengan memakai atribut-atribut Islam, sementara yang ditayangkan 180 derajat bertentangan dengan ajaran Islam dan nalar sehat. Semoga akhir hidup kita dapat terhindar dari dosa, terlebih lagi dengan dosa-dosa yang tidak terampuni.

Wallahu a'lam bish-shawab

 
IP
visitors browsers counter
Add to Technorati Favorites
Msn bot last visit
This Blog is proudly presented by Blog Ramadhan | Thanks to bacayuk.blogdetik.com